正在加载视频...

视频加载失败

Masyaa Allah… Rektor ITB lepas rombongan Kabinet Mahasiswa ITB yang akan pergi ke Aceh bantu pemulihan pasca bencana. Mahasiswa Berdampak untuk Pemulihan Bencana Sumatra, program Kemdiktisaintek. Sc: santosoim —- Selamat berkhidmat untuk membantu Aceh, adek-adek mahasiswa. Sehat selalu, barakallah

62,910 次观看 • 7 个月前 •via X (Twitter)

0 条评论

暂无评论

原始帖子的评论将显示在这里

相关视频

Lembaga-lembaga PBB yaitu United Nations Development Programme UN Development dan United Nations Children's Fund UNICEF sudah menerima surat resmi dari Pemerintah Aceh terkait permintaan bantuan penanganan pascabencana yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Aceh. Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella membenarkan surat itu masuk pada Minggu (14/12). Sara mengatakan, saat ini mereka sedang menganalisis bentuk dukungan terbaik yang akan diberikan kepada wilayah Aceh yang terdampak. "Saat ini, UNDP sedang mengkaji bentuk dukungan terbaik yang dapat diberikan kepada para national responders atau tim penanggulangan bencana serta masyarakat terdampak, sejalan dengan mandat kami dalam pemulihan dini (early recovery)," kata Sara Ferrer dalam keterangan tertulisnya Secara khusus Pemerintah Aceh secara resmi juga telah menyampaikan permintaan keterlibatan beberapa lembaga internasional atas pertimbangan pengalaman bencana tsunami 2004, seperti UNDP dan UNICEF. "UNICEF telah menerima surat dari Pemerintah Provinsi Aceh dan saat ini sedang menelaah bidang-bidang dukungan yang diminta, melalui koordinasi dengan otoritas terkait, untuk mengidentifikasi kebutuhan prioritas di mana UNICEF dapat berkontribusi dalam upaya penanganan yang dipimpin oleh pemerintah," kata Kantor Perwakilan PBB di Indonesia dalam keterangannya, Senin kemarin. "Tim UNICEF di Kantor Lapangan Aceh telah berada di lapangan dan diperkuat dengan tambahan keahlian teknis, khususnya di bidang yang berkaitan dengan kesejahteraan anak," sembungnya Sc: 4maze

Maria A. Alkaff

734,136 次观看 • 8 个月前

21 Tahun Damai Aceh, Tiga Tuntutan Masyarakat: Tuntaskan MoU Helsinki, Percepat Rehabilitasi Bencana, dan Perpanjang Dana Otsus BANDA ACEH, 15 Agustus 2026 — Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), kembali memunculkan perdebatan mengenai implementasi MoU Helsinki. Kericuhan terjadi setelah aparat keamanan melarang pengibaran Bendera Aceh, yang kemudian dilaporkan sempat dikibarkan oleh sebagian peserta. Bagi sebagian masyarakat Aceh, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai simbol, tetapi menyangkut sejauh mana komitmen perdamaian yang ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005 telah dilaksanakan. Setelah 21 tahun, masyarakat Aceh kembali menyuarakan sejumlah tuntutan agar perdamaian tidak berhenti pada penghentian konflik bersenjata, tetapi diwujudkan melalui pemenuhan seluruh komitmen yang telah disepakati. 1. Tuntaskan seluruh komitmen MoU Helsinki Pemerintah diminta menyelesaikan seluruh persoalan yang masih tertunda dalam implementasi MoU Helsinki, termasuk persoalan Bendera dan Lambang Aceh. Bagi masyarakat Aceh, legalisasi dan penggunaan simbol daerah merupakan bagian penting dari penghormatan terhadap kekhususan Aceh dan komitmen perdamaian. Persoalan tersebut diharapkan diselesaikan melalui dialog politik dan mekanisme hukum, bukan melalui tindakan yang dapat memicu ketegangan di tengah masyarakat. Selain persoalan simbol, masyarakat juga menuntut agar kewenangan Aceh dalam bidang ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam sebagaimana menjadi bagian dari kesepakatan damai dapat diwujudkan secara lebih nyata. 2. Pemerintah diminta lebih serius dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Masyarakat juga meminta Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh mempercepat serta memperkuat program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terbesar yang berdampak luas di Sumatra. Penanganan bencana tidak cukup hanya dengan bantuan tanggap darurat. Masyarakat membutuhkan pembangunan kembali infrastruktur, rumah, fasilitas umum, jalan, jembatan, serta pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak. 3. Dana Otsus diminta diperpanjang secara permanen Masyarakat Aceh juga meminta agar Dana Otonomi Khusus (Otsus) diperpanjang secara permanen. Dana Otsus dinilai memiliki peran penting dalam mengejar ketertinggalan pembangunan Aceh. Namun, berbagai regulasi dan persoalan implementasi dinilai masih menghambat optimalisasi manfaat Otsus bagi masyarakat. Karena itu, masyarakat berharap Pemerintah Pusat memberikan kepastian jangka panjang mengenai Dana Otsus sebagai bagian dari komitmen untuk memperkuat perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan Aceh. Perdamaian Harus Menghasilkan Kesejahteraan 21 tahun setelah MoU Helsinki, pertanyaan yang semakin kuat di tengah masyarakat bukan lagi sekadar apakah Aceh telah damai, tetapi apakah perdamaian tersebut telah menghasilkan keadilan, kesejahteraan, dan terpenuhinya seluruh komitmen yang disepakati. Persoalan bendera yang kembali muncul pada peringatan Hari Damai Aceh menjadi pengingat bahwa masih terdapat persoalan yang membutuhkan penyelesaian politik dan hukum secara serius. Perdamaian bukan hanya tentang berhentinya konflik bersenjata. Perdamaian juga tentang menepati kesepakatan. Aceh telah memilih jalan damai. Kini, yang dibutuhkan adalah keseriusan semua pihak untuk memastikan seluruh komitmen perdamaian dihormati, dilaksanakan secara adil, dan memberikan manfaat nyata bagi rakyat Aceh. Tiga tuntutan utama masyarakat Aceh: tuntaskan MoU Helsinki, percepat rehab-rekon pascabencana, dan berikan kepastian Dana Otsus untuk masa depan Aceh.

Aceh 🇮🇩🇹🇷🇵🇸

18,246 次观看 • 15 天前

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya merespons pihak-pihak yang membandingkan penanganan bencana di era Presiden Prabowo Subianto dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. “Jadi saya mau sampaikan begini, setiap bencana punya tantangan sendiri, butuh penanganan sendiri, dan yang pasti setiap pemerintah di kala itu pasti ingin yang terbaik dan yang tercepat untuk memulihkan,” ujar Teddy saat konferensi pers di Jakarta, Senin (29/12/2025). “Dan sekarang ini kita sudah masuk dalam 1 bulan pasca bencana, 1 bulan pertama. Dan alhamdulillah pemerintah, kita semua di sini termasuk Anda rekan-rekan pers dan semua yang ada di sana dalam 1 bulan ini kita ada hasil konkret.” Teddy menjelaskan, bencana yang melanda Sumatera berdampak pada 78 jalan nasional yang tak bisa diakses serta jembatan yang putus. Ia menyebut pemulihan jalan terus dikebut selama sebulan terakhir. “Per 1 bulan dari 78, tinggal 6 yang masih proses penyambungan. 4 titik di Aceh dan ada di Sumbar dan di Sumut. Kemudian yang kedua, jembatan lintas kabupaten. Banyak sekali jembatan yang berubukan antar kabupaten yang putus. Per sekarang 1 bulan, 12 jembatan yang sungainya lebar-lebar 50 m ke atas bahkan di Bireun itu sampai 180 m itu tersambung,” lanjut Teddy. “Pasang jembatan ini biasanya 1 bulan lebih oleh petugas dibantu warga bisa ada yang 1 minggu, ada yang 10 hari,” kata dia. Teddy juga bilang bahwa pemerintah terus mengebut pembangunan hunian. Seminggu ke depan, ada 600 rumah hunian yang akan rampung. Ia menyebut Prabowo turut menginstruksikan kepada Danantara untuk membangun 15.000 rumah secepatnya. | Narasi Daily

Narasi Newsroom

13,823 次观看 • 8 个月前

Di Yogyakarta, pada bulan Juli 1992, seorang senior di pergerakan mahasiswa menelepon ke rumah kami, “Istri saya akan melahirkan, temani saya, ya.” Saya langsung berangkat dan menemani dia menunggu istrinya melahirkan anak pertama mereka. Senior tersebut adalah mantan Ketua FKHJ-Dewan Mahasiswa ITB yang saat itu sedang menempuh studi S2 di MM-UGM, sementara saya sedang bertugas sebagai Ketua Senat Mahasiswa UGM. Kami rutin berinteraksi dalam berbagai aktivitas pergerakan mahasiswa di Yogja. Walaupun lebih senior, ia tetap sering meluangkan waktu untuk mengikuti rapat dengan para aktivis mahasiswa yang masih kuliah. Bulan Oktober 2024 lalu, dalam resepsi pernikahan putrinya Ning Eva Munif di Pondok Pesantren DNE, Ploso, Kediri, saya duduk berdampingan dengan seorang anak muda bernama Dhito, yang menjabat sebagai Bupati Kediri periode 2020-2024. Saat itu saya baru menyadari. Dhito ini adalah bayi yang dulu saya temani saat kelahirannya. Tak terbayangkan, saya menyaksikan ketika lahirnya dan sekarang duduk berdampingan saat bayi itu sudah jadi Bupati. Sementara sang ayah, senior di aktivis, yang saat itu meminta saya menemani proses persalinan istrinya, kini menjadi calon Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Dunia ini kecil. Perjalanan hidup tiap orang memang panjang dan tak selalu sama. Sesekali persimpangan kembali mempertemukan ulang jalan yang terpisah. Setiap pertemuan jalan, memunculkan kisahnya sendiri. Selalu ada hikmah.

Anies Rasyid Baswedan

2,147,913 次观看 • 1 年前

🌍 JANGAN TERKEJUT KALAU ACEH ANGKAT KAKI DARI INDONESIA Tanpa Aceh, Indonesia TIDAK AKAN PERNAH ADA. Itu fakta sejarah, bukan opini wak. Tapi apa untungnya Aceh bertahan di Republik ini kalau cuma dijadikan anak tiri? 🧵 Di Aceh, anak-anak muda mulai lelah wak. Percakapan soal referendum bukan lagi sekadar nostalgia wak, tapi mulai terdengar sayup sayup, pemuda aceh mulai tersadarkan. Sebelum kalian sok nasionalis wak dan menyerang mereka, coba buka mata kalian lebar-lebar wak. 1. Bencana sudah 8 bulan, tapi pemulihan? SETENGAH HATI! 2. Aceh mau bangun port hub untuk saingi Port Klang & Singapura? DILARANG pempus! 3. Aceh mau buka rute penyeberangan Aceh-Melaka? TIDAK DIDUKUNG! Alasan pempus selalu sama wak, KETAKUTAN DAN KECURIGAAN konyol. Takut Aceh selundupkan senjata? Helo! Kalau Aceh mau berontak lagi, mereka tak perlu impor senjata wak. Cukup gali tanah Aceh, senjata peninggalan konflik masih menumpuk! 20+ tahun Aceh setia pada Perjanjian Helsinki. Tapi apa balasan Republik? Ingkar janji wak! Banyak poin Helsinki cuma jadi kertas sampah di mata pusat. Kalian pikir aja wak, Indonesia pernah jadi eksportir LNG nomor 1 di dunia karena siapa? ACEH! Ribuan triliun Aceh sumbang untuk Republik ini. Aceh dapat apa? KEMISKINAN! Sekarang ditemukan lagi cadangan gas raksasa di Blok Andaman. Dan tebak apa yang mau dilakukan pempus? Langsung mau tarik pipa gas dari Aceh sampai ke Jawa wak! Gila gak tuh🥺, terus Aceh dapat apa lagi? Kosong! Cuma dapat ampasnya lagi wak! Jangan bawa-bawa argumen KAN SUDAH KASIH DANA OTSUS. Otsus itu TIDAK ADA APA-APANYA wak dibanding ratusan ribu triliun yang dikuras dari tanah Aceh. Ini bukan kemitraan, ini pemerasan wak! Awak BUKAN orang Aceh. Tapi melihat daerah yang jadi MODAL AWAL lahirnya bangsa ini dikuras, diperkosa sumber daya alamnya, dan dianaktirikan... jujur awak muak! Jangan kaliankaget wak, kalau suatu hari nanti Aceh angkat senjata atau angkat kaki dari Indonesia. Mereka bukan pembangkang, mereka cuma manusia yang sudah lelah dan sudah habis kesabarannya wak.😭

Sumatera Adil & Federal

26,352 次观看 • 1 个月前

Presiden Prabowo Subianto bicara ada desakan yang meminta Bencana Sumatera untuk dijadikan Bencana Nasional. Korban meninggal di Sumbar, Sumut, dan Aceh sejauh ini sudah lebih dari 1.000 orang. Awalnya, Prabowo bercerita banyak kepala negara lain yang ingin memberikan bantuan untuk Sumatera. "Saya ditelepon banyak kepala negara ingin berikan bantuan, saya bilang terima kasih concern Anda, kami mampu. Indonesia mampu mengatasi ini," kata Prabowo saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (15/12). Kata Prabowo, saat ini situasinya terkendali. Ia akan memonitor terus proses rehabilitasi. “Kita sudah kerahkan, ini 3 provinsi dari 38 provinsi. Jadi situasi terkendali, saya monitor terus," katanya. Presiden Prabowo Subianto menegaskan, pemerintah dan jajarannya akan selalu hadir dan bergerak cepat untuk menanggulangi bencana di Sumatera. Tak ada yang berleha-leha. Namun di sisi lain, Prabowo mengingatkan masih ada pihak-pihak yang mewacanakan sesuatu yang tidak tepat. Mereka yang punya motivasi politik di situasi penderitaan rakyat. Kata Prabowo, mereka membawa narasi negatif saat bencana Sumatera. Salah satunya soal pemerintah tidak hadir. "Dalam rangka ini, di tengah bencana, di tengah musibah, mereka yang ditonjolkan adalah kebohongan, ketidakbeneran, dikatakan pemerintah tidak hadir, puluhan ribu dalam saat saat pertama sudah dikerahkan ke situ," katanya. 📸: Dok. YouTube Sekretariat Presiden. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. #newsupdate #update #news #vidol #prabowo #presidenprabowo #bencananasional #sumatera #bencanasumatera #infoterkini #berita #beritaterkini #bicarafaktalewatberita #kumparan

kumparan

527,618 次观看 • 8 个月前

Situasi Terkini! RSUD Aceh Tamiang Sudah Bersih, Rapi, dan Bersiap Aktif Kembali Aceh Tamiang — RSUD Aceh Tamiang yang sebelumnya lumpuh total akibat banjir bandang kini sudah kembali bersih, rapi, dan siap beroperasi bertahap. Pemulihan cepat ini berlangsung berkat pengerahan puluhan prajurit TNI dari Kodim 0117/Aceh Tamiang dan dukungan lintas instansi kesehatan yang bekerja intensif sejak beberapa hari terakhir. RSUD Tamiang adalah fasilitas yang paling parah terdampak pasca banjir bandang. Layanan sempat lumpuh total. Lalu pada 4 Desember 2025, 35 prajurit TNI diterjunkan untuk membuka akses rumah sakit yang terhalang puluhan kendaraan terseret banjir. Setelah akses terbuka, prajurit mendapati kondisi seluruh ruangan dipenuhi lumpur setinggi sekitar 40 cm. Kodim kemudian menambah kekuatan menjadi 80 personel pada 5 Desember serta mengerahkan satu unit mobil damkar guna mempercepat pembersihan. *IGD dan Farmasi Kembali Aman Digunakan* Kementerian Kesehatan melaporkan perkembangan signifikan. “Farmasi, IGD, dan koridor kembali rapi dan aman digunakan,” demikian dikutip dari laporan Kemenkes, Senin (8/12). Seluruh ruang utama juga disterilkan, lantai dan dinding dibersihkan, serta peralatan diselamatkan. Selain TNI, dukungan juga datang dari unsur pendidikan kesehatan. Mahasiswa Poltekkes Medan dikerahkan untuk melakukan pembersihan khusus pada ruang operasi RSUD Tamiang, memastikan sterilitas ruangan kembali terjaga sebelum digunakan kembali untuk tindakan medis. Kesiapan teknis alat kesehatan turut dipulihkan oleh tenaga profesional. Tim Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Medan melakukan pengecekan alkes satu per satu di RSUD Kabupaten Tamiang guna memastikan semua peralatan yang terdampak banjir dapat difungsikan dengan aman atau diidentifikasi untuk perbaikan/penggantian. *Tim RSUP H. Adam Malik Masih Bertugas di RSUD Tamiang* Tim medis dan teknis dari RSUP H. Adam Malik Medan masih berada di RSUD Tamiang hingga hari ini. Mereka fokus pada persiapan pembukaan kembali IGD dalam waktu dekat. Kemenkes menyebut, “Layanan IGD siap kembali berjalan. Sebagian pasien dialihkan sementara selama proses pemulihan.” Kemenkes memberikan penghargaan kepada seluruh pihak yang bekerja tanpa henti. “Terima kasih khususnya kepada TNI, tenaga kesehatan, dan seluruh pihak yang bergotong royong memulihkan layanan untuk warga Aceh Tamiang.” #AcehTamiang #RSUDTamiang #PemulihanBencana #TNI #Kemenkes #BantuanKemanusiaan #ElshintaNews Prabowo Subianto

Radio Elshinta

52,908 次观看 • 8 个月前

GAWAT WAK.....🚨⚠️⚠️⚠️ SITUASI DI ACEH MAKIN MEMANAS BENDERA MERAH PUTIH DITURUNKAN BURUNG GARUDA DI PIJAK PIJAK DAMPAK 20 TAHUN ABSENNYA KEADILAN DI ACEH🚨 Eskalasi kekecewaan masyarakat di Aceh saat momentum peringatan MoU Helsinki bukan sekadar aksi mendadak wak. Ini adalah penumpukan kekecewaan mendalam atas lambannya realisasi komitmen politik yang telah disepakati bersama. Melihat aksi penolakan terhadap simbol negara tentu memicu keprihatinan. Namun, untuk memahami akar masalahnya, kita harus melihat konteks mendasar dari sudut pandang masyarakat daerah wak. 1. Realisasi Janji MoU Helsinki yang Tertahan Pasca penandatanganan kesepakatan damai 2005, rakyat Aceh konsisten menjaga perdamaian dalam bingkai persatuan. Namun, banyak pihak menilai eksekusi turunan kesepakatan termasuk kewenangan khusus dan bagi hasil SDA masih belum tuntas diselesaikan oleh pemerintah pusat. 2. Penanganan Bencana & Ketimpangan Perhatian Kekecewaan kian memuncak ketika penanganan bencana besar, seperti banjir yang melanda kawasan Aceh akhir 2025 lalu, dirasakan kurang mendapatkan penetapan status serta respons cepat dari pusat. Hal ini memperlambat proses pemulihan ekonomi dan infrastruktur warga. 3. Eksploitasi Sumber Daya Alam vs Hak Daerah Pengelolaan potensi SDA besar (seperti Blok Andaman) kerap memicu sentimen bahwa daerah hanya mendapatkan porsi minimal wak, sementara kontrol utama dan keuntungan terbesar ditarik ke pusat tanpa memberikan wewenang penuh pada pemerintah daerah. Narasi ekstrem yang menyuarakan pemisahan wilayah, seperti opsi pelepasan daerah, seharusnya menjadi tampar keras bagi pembuat kebijakan di Jakarta. Jika pemerintah pusat tidak segera mengubah pendekatan paternalistik ini dan tidak serius menuntaskan butir-butir kesepakatan Helsinki serta keadilan ekonomi, maka potensi keretakan hubungan antara pusat dan daerah akan terus menjadi api dalam sekam. Menurut awak Indonesia harusnya sudah melakukan efisiensi wilayah dengan membuang aceh dari peta Republik ini atau jika masih belum efisiensi buang juga Papua dari peta Republik ini. Karna hanya dengan begitu Indonesia bisa percaya diri untuk maju. Contohnya malaysia yang membuang Singapura dari peta negaranya, lalu apa yang terjadi, ya kita tahu bersama wak, Singapura maju malaysia maju dan yang paling diuntungkan adalah rakyat kedua negara tersebut. Keadilan sosial dan pemenuhan janji politik adalah harga mutlak untuk mempertahankan keutuhan berbangsa jika tidak mampu maka lebih baik dibuang saja dari peta Republik ini.

Sumatera Adil & Federal

69,404 次观看 • 15 天前

Satu sakit, sakit semua. Itulah makna saudara kandung. Dan itulah juga makna sesama anak negeri ini, meski terpisah ribuan kilometer dan puluhan dialek. 26 Desember 2004. Gempa 9,3 SR mengguncang dasar Samudra Hindia. Tsunami menyapu Aceh, menelan lebih dari 170 ribu nyawa dalam hitungan jam. Di saat yang sama, di perantauan Jawa, ribuan mahasiswa Aceh tak bisa tidur. Mereka menangis di kos-kos-an sempit, tak tahu apakah ibu, bapak, adik, kakak masih bernapas. Tapi malam itu juga, ribuan orang Jawa yang tak pernah ke Aceh, yang bahkan tak tahu bedain Meulaboh sama Lhokseumawe, berdiri berjam-jam di Stasiun Gambir dan Senen, membawa kardus bertuliskan “Untuk Saudaraku di Aceh”. Ada yang menyumbang beras, ada yang menyumbang darah, ada yang cuma bisa menyumbang doa sambil memeluk erat anaknya sendiri. Satu sakit, sakit semua. September 2009. Gempa 7,6 SR menggoyang Padang dan Pariaman. Rumah-rumah bergaya Rumah Gadang yang megah itu runtuh seperti kue kering. Di Jakarta, di Surabaya, di kampus-kampus negeri, mahasiswa Minang yang biasanya sombong dengan rendang dan dendengnya, tiba-tiba jadi pendiam. Mereka tak bisa pulang. Tiket habis. Jalan putus. Tapi malam itu juga, truk-truk berplat B dan D berjejer di pelabuhan Merak, membawa tenda, selimut, mie instan, dan obat-obatan. Sopirnya orang Jawa tulen. Mereka tak diminta. Mereka cuma bilang, “Orang Sumbar lagi susah. Kita bantu.” Satu sakit, sakit semua. Maret 2024, November 2025. Banyaknya banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, di Sumatera Barat lagi. Kampung-kampung di Tanah Karo, di Pesisir Selatan, di Toba, lenyap ditelan tanah. Orang-orang di Jakarta, di Bandung, di Semarang, yang selama ini sibuk mengolok-olok “Jawasentris”, tiba-tiba berhenti bicara. Mereka buka dompet. Mereka buka posko. Mereka rela antre berjam-jam di bandara hanya untuk jadi relawan. Tak ada yang bilang, “Bukan urusan gue.” Karena saat saudara di ujung barat pulau ini menangis, rasa itu menjalar sampai ke ujung timur, melewati Selat Sunda, melewati gunung-gunung, melewati semua cemoohan “Jawa terlalu dominan” yang biasa kita lempar-lemparan di medsos. Satu sakit, sakit semua. Bukan karena darah yang sama. Tapi karena rasa yang sama: rasa yang membuat kita sadar, bahwa garis imajiner bernama “provinsi” itu tak pernah bisa memisahkan hati yang sudah terlanjur terikat sejak 17 Agustus 1945. Jadi kalau ada yang masih bertanya, “Kenapa sih orang Jawa ikut repot kalau Aceh atau Sumatera kena musibah?” Jawab saja dengan kalimat sederhana ini, Karena satu sakit, sakit semua. Itulah makna saudara sebangsa. Bukan karena suku, bukan karena agama, bukan karena pulau. Tapi karena kita terpaksa saling mencintai, dan anehnya, justru karena terpaksa itu, cinta kita tak pernah benar-benar pergi. Meski kadang berisik. Meski kadang saling sindir. Tapi saat bencana datang, kita tetap satu. Satu sakit, sakit semua. Satu bangkit, kita bangkit bersama.

Miss Tweet |

18,102 次观看 • 8 个月前