Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

Mata uang negara lain menguat thd dollar, tapi Rupiah melemah. Ini bukan sepenuhnya karena imbas geo politik. Tapi karena mis manajemen rezim, fundamental yg kacau. Negara salah urus. Kopdes yang tak jelas arah. Program atasi stunting yg perlu dibantu cuma 7 juta jiwa, tapi project MBG nekat memaksa maksimal...

30,331 Aufrufe • vor 4 Monaten •via X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfügbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

Ähnliche Videos

Laporan dari Korea di program KLAB, KBS tentang MBG: Sejak tahun lalu, siswa, balita, ibu hamil -- sebanyak 83 juta orang menerima 1 kali makan siang gratis. Keliatannya bagus. Tapi kata Prof. Youngkyung Ko dari Yonsei University: "Proyek sebesar ini, tapi dijalankan dengan tergesa-gesa. Padahal anggarannya LUAR BIASA, 320 triliun rupiah. Hampir 18% dari total anggaran negara." "Tapi program ini dijalankan secara nasional, tanpa persiapan yang matang, pengadaan, SOP, dan rantai pasok yang matang. SEMUA BELUM SIAP. SEMUA BERANTAKAN." Belum lagi, ternyata operasional program ini berbeda dengan yang biasa kita kenal (di Korea, makan siang dimasak di dapur sekolah). Bukannya dimasak di sekolah, tapi dipesan dari pihak ketiga. Lalu diantar ke masing-masing sekolah. Indonesia panas, belum lagi dimasak pagi-pagi, membuat kondisi makanan jadi kurang baik. KERACUNAN DI MANA-MANA. Koresponden KBS di Indonesia: "Kalau saya tanya warga sekitar, harusnya MBG bukan prioritas, lebih utama kesejahteraan rakyat dan stabilitas harga dibanding menghamburkan uang untuk program ini." Pemerintah akhirnya menghentikan sementara program ini selama liburan sekolah. Tapi kontroversi terus berlanjut. Prof. Youngkyung Ko: "Pemerintah langsung menggelontorkan dana besar-besaran untuk BGN, sampai terus menerus ada dugaan korupsi. Sampai akhirnya petinggi BGN ditangkap Kejaksaan karena korupsi." "Belum lagi keterlibatan militer di program ini." "Sejak Prabowo jadi Presiden, tentara boleh menduduki dan menjalankan jabatan sipil." "Hasilnya, semua koneksi militer berbondong-bondong masuk ke bisnis program MBG ini." Mahasiswa dan masyarakat pun turun ke jalan khawatir pemerintahan sipil sejak reformasi, akankah kembali ke rezim militer?

Ardianto Satriawan

217,104 Aufrufe • vor 21 Tagen

Tau kan kenapa aksi jual rupiah marak bahkan sampai ke ringgit malaysia dan dolar singapura. Tentu saja mereka panik dengan kebijakan DHE SDA yg diterapkan presiden Prabowo Subianto per 1 juni ini Pdhl kebijakan dhe ini mewajibkan 60% dr dhe sda Indonesia utk migas masih ada kelonggaran. Itu aja nilainya sudah mencapai 165,9 milyar US$ 165,9 milyar US$ itu total ekspor wajib dhe sda yg pembayaran hrs melalui sistem perbankan Indonesia (himbara) tidak hrs lewat bank korespondensi (biasanya singapura hongkong) Itu angka dalam 1 tahun Bisa dibayangkan selama puluhan tahun ekspor kita melewati bank korespondensi, 165,9 milyar dollar atau setara 2890 T uang ekspor mengendap di negara lain. Digunakan negara lain diputar mereka Indonesia cuma dapat apa.... Nunggu lama agar uang ekspor masuk ke sistem keuangan RI. Pemerintah Joko Widodo pun pernah membuat kebijakan ini tapi sebelum dibuat negara "little dpt on map" Tsb gercep membuat kebijakan tax amnesty utk menarik uang dr Indonesia masuk ke negara mereka utk menghambat kebijakan tsb, akhirnya jokowi hanya bisa menerapkan DHE tidak maksimal hanya 30 % Ketegasan presiden Prabowo bukan kaleng2 beliau tegas DHE sda wajib 100 persen masuk sistem keuangan Indonesia selama 1 th. Paling tidak transaksi ekspor lgs masuk ke Indonesia Masih ke gocek isu menkeu mau mundur, menkeu diganti chatib basri.... Isu sentimen negatif utk menekan pemerintah utk mengurungkan kebijakan yg membuat Indonesia mandiri terus dilakukan.....

Laksmi

54,328 Aufrufe • vor 2 Monaten

✍🏻 Kasus Khariq Anhar ini ibarat dagelan yg tidak lucu. Bayangkan, seorang mahasiswa ditangkap dan dipenjara selama hampir 5 bulan (29 Agustus 2025 – 23 Januari 2026), tapi ternyata di akhir cerita, Majelis Hakim bilang, “Ini kasusnya gak jelas, batal demi hukum.” Ini bukan soal pengacara Khariq yg hebat, tapi ini soal aparat (Polisi dan Jaksa) yg kerjanya ugal-ugalan. Coba deh kita bedah pakai logika sederhana, pertama penangkapan oleh polisi, Khariq ini dituduh soal “omongan” atau tulisan (pendapat) yg ditafsirkan provokasi, kok penangkapannya spt nangkap begal, maling motor, perampok bank, atau pembunuh berdarah dingin...? Biasanya, kalau kasus “kata-kata” alias menyampaikan pendapat, orangnya dipanggil dulu, dikirim surat dulu, ditanya baik-baik, “Mas, maksud tulisan panjenengan niku opo..?” Tapi di kasus ini pak polisi main langsung tangkap tanpa permisi (surat panggilan). Seolah-olah Khariq ini teroris yg mau meledakkan kota. Padahal barang buktinya cuma ada di HP atau internet, yg gak mungkin lari ke mana-mana. Ini negara hukum, bukan negara “hukum rimba”. Kalau menangkap aktivis caranya sama kayak menangkap begal, apa bedanya aparat dengan preman berseragam..? Dan bagian paling konyolnya lagi, Jaksa terima pelimpahan P21, Khariq disidang. Saat sidang Jaksanya bingung sendiri, Khariq ini dakwaan salahnya pakai alat bukti apa. Kalau ibarat menuduh orang mencuri, harus jelas, misalnya “Dia mencuri ayam jago warna merah pakai karung goni.” Tapi pada kasus ini, Jaksa dakwa Khariq bersalah, tapi waktu ditanya “Dia pakai aplikasi apa..?”, Jaksa jawabnya muter-muter. Bisa WhatsApp, bisa Twitter, bisa apa saja terserah Jaksa. Majelis hakim jengkel, ini bukan kuis tebak-tebakan. Masak terdakwa disuruh membela diri dari tuduhan yg gak jelas. Ujung-ujungnya majelis hakim membebaskan Khariq karena Jaksa dianggap tidak profesional. Sekarang mari coba kita hitung kerugiannya. Khariq dipenjara sekitar 147 hari. Ia selama 147 hari, dia tidak bisa kuliah, dia dipisahkan dari keluarga, tidur di sel sempit. Dan semua itu terjadi hanya karena Polisi buru-buru menangkap dan Jaksa asal-asalan bikin dakwaan. Ketika Hakim ketok palu “Bebas Demi Hukum”, apakah waktu 147 hari itu bisa dikembalikan…?? Tidak..!!. Kalau ini terjadi di negara maju, di negara yg hukumnya sudah matang (seperti di Eropa atau Amerika), kalau polisi salah tangkap dan jaksa ngawur sampai bikin orang tak bersalah masuk penjara, negara WAJIB BAYAR GANTI RUGI (kompensasi) yg nilainya miliaran rupiah. Polisi dan Jaksanya bisa dipecat atau digugat balik karena merusak hidup orang. Tapi di sini..? Dengan entengnya cuma dianggap “Ya sudah, nasibmu nak…”. Boro-boro ada ganti rugi otomatis, sekedar permintaan maaf terbuka pun tidak. Khariq pulang dng membawa trauma, sementara aparat yg salah tangkap tetap gajian seperti biasa. Bagaimana menurut kalian, B*ngs*t sekali bukan…? Ini adalah fakta realitas kualitas Peradilan dan Penegak Hukum kita, nggak perlu kirim buzzer akun netes untuk bela di kolom komentar pake narasi “Aparat Penegak Hukum kita bekerja profesional berdasarkan konstitusi, percayalah, dengan memberi dukungan pada APH, kita akan menyongsong Indonesia Emas tahun 2045..” Terima saja kenyataannya, kasus Khariq Anhar adalah bukti nyata bahwa aparat kita sedang malas mikir, malas bikin surat panggilan, malas cari bukti spesifik, tapi rajin memenjarakan orang sambil joget-joget oke gas.. oke gas sampai titik darah penghabisan..!!. Kebebasan warga negara dirampas bukan karena dia jahat, tapi karena penegak hukumnya “Gibran”, alias TIDAK BECUS BEKERJA..!!. ///////______________________ ** “Jum’at mubarrak, selamat menjemput datangnya bulan Ramadhan, mohon maaf lahir & bathin atas segala salah kata dan khilaf tulisan..” ——————/////

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

61,589 Aufrufe • vor 5 Monaten

BACA BENTAR… Keren, anda Mas Tiyo 👍🏻 Di tengah hiruk-pikuk perkuliahan, target IPK, magang, dan rencana masa depan, ada satu ruang sunyi yang jarang dibicarakan: ruang kegelisahan. Kegelisahan tentang arah negara, tentang kebijakan yang terasa jauh dari harapan dan realitas sehari-hari, tentang masa depan yang tampak semakin kompetitif namun tidak selalu terasa adil. Dari ruang sunyi itulah suara Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, muncul. Apa yang ia lakukan bukan sekadar menyampaikan kritik. Ia sedang merepresentasikan kecemasan yang selama ini banyak orang rasakan tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Karena apa? Karena kebodohan yang membuat mereka berpikir bahwa ada yang salah di negeri ini tapi tidak tau cara menjelaskannya bagaimana. Ketika ia berbicara tentang keadaan negara, sebenarnya ia sedang berbicara tentang keresahan generasi: tentang lapangan kerja yang makin sempit, tentang biaya hidup yang terus naik, tentang rasa khawatir apakah kerja keras saja cukup untuk bertahan. Tidak bisa dipungkiri itulah yang dirasakan generasi produktif khususnya Gen Z. Berdiri di posisi Tiyo bukanlah hal yang mudah. Menjadi mahasiswa biasa mungkin lebih tenang. Tidak perlu disorot. Tidak perlu diserang opini. Tidak perlu dituduh macam-macam. Tetapi memilih menjadi juru bicara keresahan berarti siap menghadapi konsekuensi: disalahpahami, dipelintir, bahkan diserang katakternya. Dan di situlah letak keberaniannya, bukan karena ia tidak takut, tetapi karena ia memilih tetap berjalan meski ada rasa takut. Gerakan mahasiswa selalu lahir dari satu hal yang sama: rasa memiliki terhadap negeri ini. Bukan karena merasa paling benar apalagi merasa jagoan agar dinilai keren, tetapi karena merasa terlalu peduli untuk diam. Ketika ada anak muda yang berani bersuara sekeras itu, itu bukan hanya soal politik. Itu adalah ekspresi dari identitas generasi yang tidak ingin masa depannya ditentukan tanpa partisipasi. Sc: adiyasin_

Maria A. Alkaff

36,781 Aufrufe • vor 5 Monaten

Makin hari makin jelas: gerombolan ini panik berat. Zona nyaman mereka mulai retak, kekuasaan lama ketika partainya berkuasa mulai goyah, jadi satu-satunya senjata tinggal narasi sesat adu domba Presiden & Wakil Presiden. Tiap hari mereka rekayasa cerita: “Geng Solo ada dibalik kekacauan”, “Prabowo dikepung dari dalam”, “ada konflik istana”, “ini manuver Jokowi Circle”. Semua dibungkus analisis palsu, quote tak jelas, dan screenshot editan. Tujuannya cuma satu: menciptakan perpecahan supaya Prabowo-Gibran goyah. Padahal fakta di lapangan? Presiden & Wakil Presiden tetap solid menjalankan pemerintahan. Tidak ada retak yg mereka harapkan. Yang retak justru mental gerombolan kalian yg terbiasa main aman di zona nyaman era sebelumnya, tau kan partainya apa? Ini kerjaan orang-orang yg takut partainya kehilangan pengaruh kepercayaan publik, partainya makin nyungsep. Takut karena duet Jokowi-Prabowo-Gibran ternyata lebih kuat dari yg mereka prediksi. Takut karena rakyat mulai bosan dgn provokasi murahan. Takut karena narasi lama mereka sudah basi & tak laku lagi. Jadi setiap ada gejolak kecil—harga naik, kebijakan baru, atau isu luar negeri—langsung dikaitkan jadi “bukti” konspirasi gulingan. Itu bukan analisis, itu racun politik yg sengaja disebar untuk mengadu domba. Pesan buat gerombolan pembuat narasi sesat: Zona nyaman kalian memang sdg terganggu. Tapi jangan kira dgn adu domba murahan ini kalian bisa balik menguasai. Rakyat semakin pintar. Mereka lihat siapa yg kerja, siapa yg cuma bisa ngomong & memfitnah dari balik akun media sosial. Presiden & Wakil Presiden solid. Yang goyah justru kalian—gerombolan yg kehilangan zona nyaman & hanya bisa bertahan dgn kebohongan seolah olah partainya masih dipercaya rakyat. Kerja yg benar, benahi internal partai kalian. Berhenti racuni bangsa dgn narasi adu domba. Itu yg bikin negara maju, bukan provokasi kalian yg sudah terbongkar.​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​ *Video dari iNews Kunjungan Ragowo Hediprasetyo (Didit Prabowo) putra Presiden Prabowo ke rumah Pak Jokowi di Sumber, Banjarsari, Solo hari ini.

Dede Budhyarto

64,616 Aufrufe • vor 1 Monat

𝐌𝐁𝐆, 𝐌𝐞𝐧𝐜𝐞𝐠𝐚𝐡 𝐒𝐭𝐮𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐆𝐢𝐳𝐢 & 𝐃𝐮𝐤𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐏𝐨𝐥𝐢𝐭𝐢𝐤. Kalau tadi siang kita mengulas tentang MBK, maka sebelum malam berganti hari, mari sedikit kita intip tentang MBG. Bayangkan, jumlah 32.000 orang, di atas kertas mereka adalah laskar gizi, juru masak garda depan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, di mata para perancang strategi, mereka adalah investasi. Karena di balik uap nasi dan seragam dapur, ada uniform politik. Di dapur-dapur raksasa itu, aroma yg tercium bukan hanya bawang goreng atau nasi yg baru matang. Ada aroma lain yang lebih pekat, lebih politis yg menyelinap di antara desis kompor dan denting panci. Tiba-tiba, label "pegawai honorer" atau "pekerja kontrak" dirasa tak cukup. Mereka harus dibalut dengan seragam khusus, disematkan lencana Korpri, dan diberi "takhta" bernama ASN. Sebuah lompatan status sosial yg di negeri ini setara dengan memenangkan lotre kehidupan. Siapa yg akan menolak jaminan pensiun dan gaji tetap di tengah ekonomi yg serba tak pasti..?, tidak ada. Dan di situlah letak jeniusnya (atau mungkin liciknya). Sebab dalam kalkulator kekuasaan, angka 32.000 itu tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah hulu ledak dengan daya ganda. Satu seragam ASN bukan hanya mengikat satu jiwa, tapi menyandera satu meja makan keluarga. Asumsikan satu pekerja menanggung atau mempengaruhi empat kepala, ada istri, suami, anak yg baru cukup umur, atau orang tua yg menumpang hidup. Dalam sekejap mata, 32.000 berubah menjadi 128.000 loyalitas yg terkunci. Bukan dengan paksaan senjata, tapi dengan rasa “berutang budi” dan ketakutan klasik akan hilangnya periuk nasi. Namun, jaring laba-laba ini tak berhenti hanya disitu, ia melebar lebih jauh dari sekadar ruang keluarga. Lihatlah ke pasar, ke pengepul telur, ke petani sayur, hingga ke supir boks pengantar katering. Mereka semua kini menjadi gerbong yg ditarik oleh lokomotif yg bernama MBG. Ketika status para juru masak ini dipermanenkan, maka status para vendor dan supplier pun ikut dipatenkan, apalagi tidak ada aturan tender disitu. Para supplier bahan pangan kini paham satu hal, bahwa kelangsungan bisnis mereka bergantung pada kelangsungan program ini. Dan kelangsungan program ini bergantung pada siapa yang duduk di singgasana. Rantai pasok ini tidak lagi sekadar urusan logistik, ia telah bermutasi menjadi rantai komando politik. Pada akhirnya, kita diajak melihat sebuah pertunjukan sulap yg memukau. Di satu tangan, mereka menyuapkan gizi untuk mencegah stunting anak bangsa. Namun di tangan lain, di bawah meja, mereka sedang sibuk merajut jaring pengaman suara untuk mencegah stunting dukungan politik. Di negeri ini, pepatah lama itu menemukan bentuk paling harfiahnya, “Tidak ada makan siang yg benar-benar gratis”. Karena tagihannya akan selalu datang lima tahun sekali, di bilik suara.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

19,679 Aufrufe • vor 6 Monaten

Sungguh sebuah orasi yang sangat visioner, tajam, dan... berhasil menembak kaki sendiri dengan akurasi 100%. Teruslah omon... ​Rapor Merah yang Ditulis Sendiri ​Sungguh sebuah momen epic comeback terbaik abad ini 🤣 Kita harus berterima kasih atas kejujuran tanpa tedeng aling-aling dari podium itu. Jarang-jarang ada pemimpin yang begitu visioner sampai-sampai bisa MERAMALKAN KEGAGALANNYA sendiri secara PRESISI sebelum datanya dirilis oleh Bank Dunia 🤣🤣🤣 ​Ketika beliau berapi-api MENUDING bahwa "kemiskinan terjadi karena PEMIMPIN yang GOBLOK, tidak handal, dan tidak kuat menghadapi intervensi asing," kita mengira beliau sedang mengritik VOC atau penjajah abad ke-17 🤣 Ternyata, itu adalah sesi refleksi diri dan pembacaan sinopsis untuk masa pemerintahannya sendiri. Sebuah pidato yang melompati sekat waktu! 😱🤣 ​Prestasi 194 Juta Jiwa: Di bawah kepemimpinan yang katanya handal, kita sukses mendaftarkan 68,2% populasi negara ini ke dalam klub elit "Miskin Internasional" versi standar terbaru US$ 8,30 per hari. Naik kelas? Jelas tidak. Ini namanya memperluas wilayah kekuasaan... kekuasaan kemiskinan, maksudnya 🤣🤣🤣 sampai ke anak-cucu... ​Melonjak Indah dari 2024: Jika di akhir era sebelumnya kita "cuma" punya 171,8 juta jiwa yang megap-megap di garis rentan, sekarang angkanya MELOMPAT GAGAH seperti Serdadu yang baru Selesai RETRET. Ini bukan sekadar angka, ini adalah bukti nyata dari manajemen SALAH URUS yang konsisten dan berkelanjutan. ​Tapi tolong, jangan panik! Rakyat dilarang miskin secara visual. Mengapa harus pusing memikirkan DAYA BELI riil di akar rumput yang makin amblas, kalau anggaran fiskal kita bisa dialokasikan dengan sangat estetik untuk proyek-proyek kosmetik bergengsi dan belanja impor super mahal? Logikanya sangat tingkat tinggi: perut boleh kosong, otak silakan Bodoh. yang penting belanja luar negeri tetap mentereng agar kita terlihat "baik-baik saja" di mata dunia. Ide yang sangat jenius, bukan? ​Jika kemiskinan adalah cermin dari ketidakbecusan pemimpinnya—seperti yang Anda (prabowo) katakan sendiri di podium itu—maka SELAMAT. Anda tidak perlu repot-repot mencari KAMBING HITAM atau MENYALAHKAN hantu intervensi ASING. RAPOR MERAH itu TIDAK DITULIS oleh OPOSISI, tidak juga DIGUBAH oleh pengamat ASING. Rapor merah itu Anda tanda tangani sendiri dengan tinta emas kebijakan yang salah urus. 😎 ​Terima kasih atas kejujurannya. Setidaknya rakyat sekarang tahu, ketika mereka lapar karena DAYA BELI nya semakin HANCUR, itu terjadi persis seperti teori yang prabowo khotbahkan: karena pemimpinnya memang... ah, sudahlah. 🤣🤣🤣 ​:: WeKa ::

Wawat Kurniawan (WeKa) 🇲🇨

83,952 Aufrufe • vor 2 Monaten

MALU DENGAN PRESIDEN PRABOWO Kebenaran dan pemikiran sehat itu bisa muncul dari siapapun. Suara Ismail, WNI di Iran ini jauh lebih jernih dan lebih sesuai nurani bangsa Indonesia dibanding sikap dan opini Presiden RI dan suara Istana. Strategi dari dalam yang jadi penjelasan Istana mengapa Indonesia ikut BOP sebenarnya hanyalah alasan pembenar agar para pemimpin ormas beragama saat dikumpulkan di istana bisa memahami dan menerima sikap Prabowo yang pro pada Trump dan Israel. Padahal dukungan Presiden RI yang percaya dan mendukung Trump dan Israel inilah yg membuat AS jadi lebih yakin untuk menyerang dan membunuh para pemimpin Iran, karena mereka merasa telah didukung pemimpin negara yang memiliki 285 juta penduduk dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, yaitu Indonesia. Jadi sadarkah jika kedekatan dan dukungan pada Trump itu sama saja Indonesia mendukung sepak terjang Trump termasuk perang yang dia lakukan sekarang? Padahal selama ini Indonesia adalah penyeimbang kekuatan geo politik dominasi Barat maupun Timur. Kita ada di tengah memimpin gerakan Non Blok sejak Presiden Sukarno. Tiba tiba jadi inkonsisten berubah “penurut” dan “Pengikut” saat AS sedang dipimpin oleh Presiden Trump yang disebut “Sakit Jiwa”. Ada apa dan Mengapa pak Prabowo bisa lebih memilih membela Trump dari pada membela pemimpin pemimpin masa lalu dan bapak bangsa Indonesia? Apa kepentingan politik yang sebenarnya terjadi? Mengapa Indonesia jadi mentolerir Arogansi Trump dan Zionis Natanyahu menyerang dan membunuh pemimpin negara lain yang berdaulat? Apakah hal seperti itu sesuai dengan Amanah Konstitusi kita? Apa pak Prabowo dan orang orang Istana lupa bahwa alinea 1 pembukaan UUD 1945 menyebutkan bahwa “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai perikemanusiasn dan perikeadilan”. Terus serangan AS dan Israel ke Iran, ke Gaza dll dengan tujuan membunuh para pemimpinnya, mengganti pemerintahan yang sah itu sekarang ditafsir oleh Istana sesuai dengan bunyi pembukaan konstitusi kita?

Henri Subiakto

27,499 Aufrufe • vor 5 Monaten

Saya sering diprotes karena dulu dianggap ndukung Jokowi, kemudian sejak 2023 berbalik. Iya memang dulu saya bekerja di dalam Pemerintahan. Itu karena sejak 2007 saya masuk di Pemerintah, saat presiden berganti dari SBY ke Jokowi (2014), saya masih ada di pemerintah. Sebagaimana jajaran birokrasi, maka wajib mendukung “Pemerintah yang sah” yaitu presiden Ke 7 dengan ikut mensukseskan pemerintahan negara. Pemilu 2014 dan 2019 kami netral, tidak ikut kampanye. Tidak ikut pula dukung mendukung politik. Kami masih di dalam menjadi bagian dari Pemerintah. Sebagamana diketahui Pemerintahan Indonesia saat itu sedang menghadapi kelompok2 yang ingin menurunkan dan mengganti pemerintah, lewat demo berjilid2, ada gerakan 411, 212 hingga demo2 besar ikutan lainnya. Gerakan politik itu banyak dinilai sebagai ancaman terhadap demokrasi, bahkan stabilitas NKRI. Kekuatan pro demokrasi dan pro NKRI menentang dan mengkritisi gerakan2 politik yg menggunakan simbol2 agama. Mereka itu identik jadi gerakan “lawan politik” pemerintah yang sah. Ternyata pemerintahan Jokowi makin kuat dan mampu konsolidasi, kemudian semakin percaya diri. Mulai saat itu kami melihat politik berubah. Jokowi nampak ingin terus berkuasa, dan melakukan berbagai cara agar bisa memperpanjang kekuasaaanya. Salah satu yg dilakukan adalah merangkul musuh, dan menyandera politisi sekelilingnya. Orang yg dulu jadi simbol anti demokrasi, dijadikan mitra politiknya. Partai partai “ditundukkan” elitnya. Sebenarnya itu boleh2 saja sebagai strategi pilihan politik. Yang jadi masalah, di dalam senyap ada rekayasa terhadap proses demokrasi. Ada pemaksaan regulasi, dengan cawe cawe mempengaruhi Mahkamah konstitusi. KPU, partai partai politik, para politisi, dan aparat negara dibuat tunduk mensukseskan dan mengikuti skenario politik 2024. Menaikkan dinasti Jokowi. Inilah politik tanpa etika bernegara. Inilah otoritarian berbalut demokrasi. Indonesia seakan kembali seperti sebelum reformasi. Disitu penguasa harus diingatkan. Tata negara demokrasi harus dikembalikan. Marwah lembaga lembaga negara harus kembali ditegakkan. Penyelewengan harus dihentikan. Apa yg dilakukan dua tahun belakangan ini tak hanya merugikan Indonesia, tapi juga membahayakan masa depan. Politik sekarang tanpa malu, terang2an memupuk nepotisme. Anak2, mantu, kerabat difasilitasi dan didorong menjadi pejabat. Seolah lewat “prosedur demokrasi” tapi sebenarnya dilakukan dengan cara2 yg tak layak terjadi jika para pelaku dan pendukung punya hati nurani. Jokowi yang awal 2014 dan 2019 jadi simbol rakyat kecil, simbol demokrasi dan simbol reformasi, berubah menjadi simbol penguasa yg melecehkan demokrasi. Simbol Penguasa yang menyepelekan reformasi. Presiden yg mengabaikan etika dan hati nurani. Jokowi tak hanya menjadi pemimpin politik yang bicaranya tak bisa dipegang. Penuh sandiwara. Dia menyandera partai partai politik dan para politisi korup. Membuat lembaga legislatif dan yudikatif tak bisa mengontrol kekuasaan. Mereka tidak berdaya menghadapi keinginan dan skenario kekuasaan. Jokowi bukan hanya menyiapkan dinastinya untuk meneruskan kekuasaan, tapi juga telah membuat nepotisme itu seolah sesuatu yg wajar, dan tidak melanggar. Padahal KKN (di dalamnya ada Nepotisme) adalah musuh gerakan reformasi. Itu yang kami kritisi dan kami lawan walau harus berseberangan dengan para buzzer, dan pemuja setianya. Ini saya lengkapi dengan video kritikan saya th 2023 saat melihat drama dan rekayasa yg makin nyata.

Henri Subiakto

56,182 Aufrufe • vor 2 Jahren

Sebenarnya banyak sekali enterpreneur kelas menengah yang punya modal antara 5 sd 10 M. Kalau saja pemerintah negera ini mau serius mendukung pertumbuhan di sektor ekonomi pertanian dan perkebunan, mungkin dalam 10 tahun kemarin Indonesia sudah masuk kembali ke jajaran tiga besar negara Asia yang mandiri dalam industri pangan. Sayangnya bangsa ini telah menyia-nyiakan waktu 10 tahun terbuang begitu saja, dengan mempercayakan kemajuan negara ini ditangan orang yang salah, sehingga habislah sumber daya alam negeri menjadi compang-camping digerogoti hama oligarki yang menjadi antek aseng dan asing. Potensi besar sebagaimana yg digambarkan Helmi Yahya itu memang benar adanya, seandainya saja saat ini tidak terlanjur sibuk di food industry yang berada di hilir, secara pribadi saya pun tertarik ke sektor hulu ini, prospeknya sangat terbuka luas dan menguntungkan. Cuma ya itu tadi, bukan hanya modal saja, tapi harus memiliki waktu yang cukup untuk secara serius menekuni peluang yang baik ini. Dengan 5 Milyar saja sebenarnya sudah cukup untuk mulai memilih bisnis skala kecil industri pangan tertentu yang diinginkan. Bahkan relationship di Twitter (X) ini sebenarnya juga bisa dijadikan titik awal melakukan riset and development dibisnis ini. Misalnya yang paling mendasar soal pengadaan lahan, untuk yang menginginkan lokasi tak jauh dari Jakarta, bisa saja menggali sumber informasi potensi lahan subur dengan kang @Gojekmilitan, mengingat beliau aktif dalam pengembangan Tahfidz Qur’an di daerah Cipunagara, Subang, Jawa Barat yang dikenal sebagai salah satu daerah subur pertanian. (Insyaallah bisnis dunia akhirat dapat ya kang @Gojekmilitan..😊). Subang bisa menjadi alternatif pilihan yang bagus, karena disamping tak jauh dari pusat perkotaan, ketersediaan lahan masih cukup banyak dan harga tanah yang relatif masih terjangkau. Banyak potensi yang dapat dikembangkan disana, seperti peternakan ayam daging, ayam petelur, bebek, budi daya ikan, perkebunan dan pertanian. Sebagai pelaku usaha pangan di sektor hilir, terkadang saya masih sering mengalami kesulitan memperoleh suplai ayam dan bebek, ini membuktikan bahwa peluang pasarnya masih sangat menjanjikan. Jadi gimana, tertarik untuk hijrah dan berekspansi ke sektor industri pangan..?

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

33,840 Aufrufe • vor 2 Jahren

𝗞𝗔𝗟𝗔𝗨 𝗦𝗣𝗥𝗠 𝗗𝗔𝗛 𝗧𝗔𝗣𝗜𝗦 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗗𝗜𝗟𝗔𝗡𝗧𝗜𝗞, 𝗞𝗘𝗡𝗔𝗣𝗔 𝗣𝗜𝗠𝗣𝗜𝗡𝗔𝗡 𝗞𝗔𝗡𝗔𝗡 𝗧𝗘𝗧𝗔𝗣 𝗥𝗔𝗦𝗨𝗔𝗛? Saya ada satu plot twist yang saya nak ajukan kepada pimpinan negara, terutamanya Dato’ Seri Anwar Ibrahim dan Tan Sri Azam Baki, Ketua Pesuruhjaya SPRM. Baru-baru ini, negara dikejutkan dengan skandal rasuah bersabit perolehan angkatan tentera. Beberapa orang pimpinan terkanan Angkatan Tentera Malaysia ditangkap dan dihadapkan ke mahkamah. Tapi ada satu plot twist yang saya masih belum ada jawapan. Masa saya jadi menteri dahulu, setiap lantikan yang melibatkan pegawai kerajaan perlu ditapis terlebih dahulu oleh SPRM. Ini bukan untuk lantikan kanan pun, lantikan yang melibatkan gred 52, 54 pun kena ditapis oleh SPRM. Tapisan SPRM ini memang syarat untuk kenaikan pangkat pun. Ini kenyataan media dari JPA sendiri dalam tahun 2017 mengesahkan perkara ini: Ini pula adalah Pekeliling Perkhidmatan Bilangan 7 Tahun 2010 mengenai syarat pemangkuan dan kenaikan pangkat dalam perkhidmatan awam, yang secara khusus menyebut sebarang kenaikan pangkat bukan sahaja perlu melepasi tapisan SPRM, tetapi perlu mengisytiharkan harta. Nampak tak plot twist? Saya ambil contoh dua kes yang telah dibawa ke mahkamah. Kes terhadap Tan Sri Hafizuddeain Jantan. Beliau dilantik Timbalan Panglima Tentera Darat pada 23 Mac 2023, kemudian dilantik Panglima Tentera Darat pada 6 September 2023. Mengikut laporan berita semasa beliau didakwa, kes rasuah beliau adalah berhubung dengan kontrak-kontrak perolehan sejak 2023. Masa dilantik Timbalan Panglima Tentera Darat dalam Mac 2023 - SPRM luluskan tapisan. Masa dilantik Panglima Tentera Darat dalam September 2023 - SPRM luluskan tapisan. Sedangkan kes yang beliau kena dakwa adalah bersabit kontrak sejak 2023 lagi - sebenarnya apa bentuk tapisan yang SPRM buat ni? Bukan ke perlu semak pengisytiharan harta? Kalau beliau dah ada kes berhubung kontrak perolehan sejak 2023, macam mana SPRM boleh luluskan tapisan beliau? Begitu juga dengan bekas Panglima Angkatan Tentera, Tan Sri Nizam Jaffar. Dilantik pada 31 Januari 2025, maksudnya selepas tapisan diluluskan oleh SPRM. Salah satu dakwaan rasuah adalah perolehan sebanyak RM1.725 juta kepada Helmee Resources pada 24 Jun 2024; iaitu sebelum beliau dinaikkan pangkat. Bila beliau nak dinaikkan pangkat, SPRM yang bertanggungjawab semak dan buat tapisan. Tapi bolos. Tapisan yang bolos. Pengisytiharan harta yang bolos. Yang ini Tan Sri Azam Baki tak pernah jawab atau komen. Bukan ke kalau SPRM buat tapisan betul-betul, semua ini telah dikenal pasti awal-awal? Ini bukan kes 1MDB atau Jho Low yang melibatkan wang di seluruh dunia. Ini kes beli hamper raya je pun. Tan Sri Azam Baki dengan gah keliling podcast tunjukkan dia berani lawan rasuah - tetapi prevention is better than cure. Ada benda yang tak kena ni sehingga tapisan SPRM tidak berkesan untuk menyekat mereka yang ada kes dari dinaikkan pangkat. Bila jadi macam ni, jangan salahkan rakyat kalau rakyat sinis. Masa nak dinaikkan pangkat semua cantik, SPRM lulus semua. Bila ada yang tak berkenan atau tak kena, korek balik semua yang dulu-dulu. Kami bukan cerdik atau hebat atau berani macam Tan Sri Azam Baki. Bila dah jadi macam ni dan tapisan SPRM macam mencukupkan syarat, rakyat fikir macam tu la. Jadi apa jaminan yang tapisan SPRM atau pengisytiharan harta tu sebenarnya ada makna untuk memastikan sesiapa yang ada kes tidak dinaikkan pangkat?

Rafizi Ramli

44,153 Aufrufe • vor 6 Monaten

Mungkin tagar paling tepat yang harus digaungkan adalah #IndonesiaReset0. Sebab kondisi saat ini benar-benar kritis, indeks harga saham Indonesia anjlok, sektor riel stagnan, UMKM nyaris kolaps, nilai mata uang terus merosot, daya beli ditingkat masyarakat paling bawah melorot..!!. Ini sudah lampu merah, sinyal yang terbaca adalah kondisi gelap gulita. Masyarakat dan kepala-kepala daerah diberbagai wilayah mulai merasa resah dan gelisah dengan situasi keprihatinan ekonomi dan politik negara. Sebenarnya, berbagai elemen masyarakat baik di pusat maupun di daerah, mulanya hampir merata menyatakan bahwa mereka masih optimis dan menaruh harapan besar pada Pemerintahan Prabowo Subianto, bahwa ia mampu memperbaiki krisis nasional yang melanda Indonesia pasca Jokowi lengser. Hanya saja, berikutnya mereka menjadi pesimis ketika Jokowi, kroni dan Nepotisme Dinasti Kekuasaannya masih diberi ruang dalam sirkel pemerintahan Prabowo. Tak ada satupun daerah yang menyatakan membenci, apalagi menentang pemerintahan Prabowo, mereka semua mendukung 100% pemerintahan Prabowo, tapi persoalan yang menjadi kegelisahan, kecemasan serta selalu meruntuhkan kepercayaan mereka di daerah-daerah adalah ketika Prabowo belum juga menunjukan sikap netralitasnya pada tegaknya supremasi hukum atas 10 tahun kekacauan tata kelola pemerintahan selama Jokowi berkuasa. Bahkan untuk persoalan hukum yang paling dasar seperti polemik keabsahan dan legalitas Ijazah Jokowi pun Prabowo belum memberikan sinyal dukungan pada instrumen penegakan hukum agar kebenaran yang hakiki diungkap sejujur-jujurnya. Itu saja persoalan utamanya yg paling mendasar, karena begitu supremasi hukum terhadap pertanggung jawaban tata kelola pemerintahan Rezim Jokowi dituntaskan, maka apapun yang diminta Presiden Prabowo bagi bangsa dan negara, rakyat dengan sepenuh jiwa raga memenuhi seruannya. Saat ini sektor ekonomi, bisnis dan investasi telah merespon dengan amat buruk semester pertama Pemerintahan Prabowo, kini sektor politik nasional pun sudah mulai ikut terguncang. Semoga saja Presiden Prabowo cepat tanggap dalam menyikapi persoalan bangsa dan negara ini dengan tindakan yang tepat, yakni Menghapus Trauma Rakyat Dari Bayang-Bayang Jokowidodo.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

17,626 Aufrufe • vor 1 Jahr

𝘎𝘢𝘦𝘴 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘐𝘺𝘺𝘢𝘴 𝘚𝘶𝘣𝘪𝘢𝘬𝘵𝘰 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘺𝘢... 𝐈𝐍𝐃𝐎𝐍𝐄𝐒𝐈𝐀 𝐇𝐀𝐑𝐔𝐒 𝐌𝐄𝐋𝐀𝐍𝐉𝐔𝐓𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐔𝐍𝐘𝐀 𝐏𝐑𝐄𝐒𝐈𝐃𝐄𝐍 𝐘𝐆 𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐄𝐓𝐔𝐆𝐀𝐒 𝐏𝐀𝐑𝐓𝐀𝐈. Telah beredar isu bahwa Jokowi seperti zaman orde baru. Ternyata itu keluar dari mulut seorang Megawati yg lagi panik. Dia lupa, 2009 dia yang ngajak PS gandengan nyapres dengan perjanjian Batu Tulis, padahal saat itu PS baru 9 tahun kembali dari pelariannya, dan darah Orbanya sebagai menantu Soeharto masih mendidih karena kekuasaannya tergusur. Saat ini, PS ditangan Jokowi dan di pasangkan dgn Gibran. Resiko ini tak mudah. Dimakan mati emak, ga dimakan mati bapak. Tapi PS sudah 25 tahun sejak kepulangannya, apa dia sudah berubah. Wallahu a'lam. Kami harus memilih siapa pemimpin yg amanah, didepan mata hanya Jokowi yg bisa di tauladani. Megawati apanya yg mau di tauladani. Jadi presiden saja ternyata lengserin Gusdur. Saat Megawati jadi presiden, apa ga pakai tangan orba untuk menjual Indosat dan keputusan BLBI yg banyak merugikan negara? Kalau apa yg disampaikan Ade Armando, ada seorang petugas partai bertemu dgn gerombolan Mamarika disatu tempat di Arab meminta agar capresnya dibantu utk menang dgn menggadaikan hilirisasi mineral akan di hentikan. Apakah ini ga lebih parah dari orba? Bejat kuadrat namanya. Mungkin ini juga yg mendasari kenapa Jokowi harus mengambil sikap tidak menjadi petugas partai yg "jinak" karena emaknya dianggap tidak bisa menjadi emak yg bisa disimak. PDIP itu terbiasa dgn ketidak konsistenannya, ngomongnya kerap dibantah sendiri. Contoh Adian Napitupulu bilang Jokowi marah karena minta jadi presiden 3 x ga dikasi. Padahal dalam video yg lain dia sendiri yg mengatakan Jokowi tidak pernah meminta jadi presiden 3x karena melawan konstitusi. Gibran dikatai anak ingusan tak ada pengalaman. Lihat sana di Wonogiri Jateng. Bertebaran baliho Pinkan yg baru berumur 25 tahun anaknya Puan yg ga pernah ingusan ikut nyaleg DPR RI dgn nomor urut 1. Katanya ga boleh buat dinasti... mikir!!! Kita bisa merasakan perasaan Jokowi dan keluarganya bagaimana seorang presiden yg dipilih rakyat mau dijadikan keset oleh partai yg arogan dan penuh kebohongan. Kalian ga perlu serang Jokowi, Gibran, Kaesang dan ibu Iriana, tunjukkan aja kalau kalian lebih hebat dan lebih kuat dari Jokowi. Kami tau ikut Jokowi memilih PS dan Gibran ada resiko besar dgn gaya dia memimpin. Tapi kami masih ada harapan karena disana akan ada Jokowi dan Gibran. Jangan sebut Jokowi tidak berdaya jika PS sudah jadi presiden. Kita masih menuju kesana, bung. Faktanya belum ada. Mana yg lebih berbahaya: kalian jual Indonesia ke Mamarika itu atau Indonesia di pimpin PS dan GRR? Bantah itu statement AA, bantah itu temuan intelejen. Itu sebab Jokowi merombak semua jajaran petinggi angkatan dan ketua BIN, ini semua buat Indonesia kedepan, bukan buat partai agar tambah mapan dan arogan. Jadi mari bertanding, jgn pakai bising, teriak2 playing victim, merasa di zholimi, apa ga sadar 9 tahun sudah mendzolomi presiden? Kalian ga usah teriak "lawan", Kamilah yg punya hak untuk teriak "kami akan lawan kalian". The End.

ʀᴇᴍɪɴɢᴛᴏɴ ꜱᴛᴇᴇʟᴇ

83,236 Aufrufe • vor 2 Jahren

Bareskrim baru bongkar modus penyelundupan sabu yang bikin gw menghela napas panjang 😔 dua kurir bawa 500 GRAM SABU dari Pekanbaru ke Sumbawa dengan cara... dimasukin ke DALAM PERUT lewat ANUS 💀 iya, lo baca ga salah. Simak 🧵👇 28 Juni 2026, jam 08.45 pagi di Terminal Kedatangan 2E Bandara Soekarno-Hatta. Tim Subdit IV Bareskrim (dapet info dari aset dari sebulan sebelumnya) ciduk 2 penumpang transit dari Pekanbaru yang mau ke Lombok: → MUSA BIN BOLANG (47, Sumbawa, tinggal di Batam) → MUHAMMAD GUNTUR (44, temen Musa) Pas diinterogasi, keduanya ngaku bawa sabu... di DALAM PERUTNYA. dimasukin lewat anus masing-masing 4 kapsul plastik = 250 gram per orang = 500 gram total 🥲 Tim langsung bawa keduanya ke RS EMC Tangerang buat XRAY + prosedur pengeluaran barang. Dan yes, hasilnya sesuai — 4 bungkus kapsul dari perut Musa, 4 bungkus dari perut Guntur ✅ Ini istilahnya "body packing" — modus lama yang dipake kartel di berbagai negara. RISKY BANGET buat pembawanya karena: → kalo satu kapsul BOCOR di dalam perut = OVERDOSIS INSTAN, mati dalam hitungan menit ☠️ → kalo mampet di usus = harus operasi darurat → jam ketat: barang harus dikeluarin dalam <24 jam sebelum tubuh mulai nyerap plastik Dan ini yang bikin sedih: mereka dibayar Rp 10 JUTA per 100 gram. Musa dapet total ~Rp 25 juta, Guntur dapet Rp 10 juta DP. buat naruh benda asing di dalam perut & taruhannya nyawa. mathematics-nya ngenes 🥲 Catatan penting dari Bareskrim di laporan: modus ini bisa lolos di Bandara Pekanbaru karena BELUM PUNYA X-RAY TRANSMISI (Body Scanner) 🚨 X-Ray biasa cuma ngedeteksi barang di luar tubuh — buat body packing perlu scanner khusus yang bisa "tembus" tubuh. bandara-bandara Indonesia perlu upgrade equipment ASAP biar modus baru ini bisa dicegah dari awal. Tim lanjut Controlled Delivery ke Sumbawa Barat, sampe jam 23.30 WITA. bertemu ISNAINI alias PP BARA (penjual di Sumbawa) yang udah nunggu barang — langsung diciduk juga. bahkan Isnaini sempat kirim Rp 5 juta ke Musa buat "bantu beli tiket pesawat" karena mereka ketinggalan pesawat 💀 real-time koordinasi. Struktur jaringan yang kebongkar: SOFIAN als PIAN (Pulau Rupat, penyedia — DPO 🏃) → JON als MEX (koordinator/pemesan — DPO 🏃) → MUSA & GUNTUR (kurir body packing ✋) → ISNAINI/PP BARA (penjual Sumbawa ✋) Business model-nya: Isnaini nyetor Rp 65 JUTA/100 gr ke Jon. Musa dapet upah Rp 10 juta/100 gr buat "layanan pengiriman lewat perut". margin buat Jon: Lumayan gede 💰 Skala kasus: 500 gram sabu, nilai ~Rp 900 JUTA, potensi 2.500 jiwa terselamatkan. dan ini baru pengiriman ke-2 mereka — yang pertama (Mei 2026) sukses masuk Sumbawa 🚨 Reminder yang berat: 1. Body packing = judi nyawa untuk uang recehan. Satu kapsul bocor = mati. Dan ini sering terjadi di berbagai negara 💀 2. Modus baru selalu muncul — Bandara yang ga upgrade equipment jadi celah. Laporan ini bahkan secara eksplisit minta pihak bandara siapkan Body Scanner 3. Yang paling dieksploitasi selalu yang paling kepepet — Musa & Guntur bukan bos, mereka pion yang risiko nyawanya paling gede tapi upahnya paling receh Salut sama tim Subdit IV Bareskrim yang jeli baca info intel + petugas bandara Soeta yang cekatan. Dan salut juga karena berani nyebut ke publik bahwa Bandara Pekanbaru masih perlu upgrade — Itu kritik internal yang konstruktif buat sistem keamanan negara 🫡 For anyone reading — kalau lo dipepet ekonomi & ditawarin "kerja mudah, bayaran gede, cuma bawa barang doang" — think TWICE! Nyawa lo ga bisa diganti sama berapapun uang yang dijanjiin. Stay safe guys!
2:01

Sensitive content

Bareskrim baru bongkar modus penyelundupan sabu yang bikin gw menghela napas panjang 😔 dua kurir bawa 500 GRAM SABU dari Pekanbaru ke Sumbawa dengan cara... dimasukin ke DALAM PERUT lewat ANUS 💀 iya, lo baca ga salah. Simak 🧵👇 28 Juni 2026, jam 08.45 pagi di Terminal Kedatangan 2E Bandara Soekarno-Hatta. Tim Subdit IV Bareskrim (dapet info dari aset dari sebulan sebelumnya) ciduk 2 penumpang transit dari Pekanbaru yang mau ke Lombok: → MUSA BIN BOLANG (47, Sumbawa, tinggal di Batam) → MUHAMMAD GUNTUR (44, temen Musa) Pas diinterogasi, keduanya ngaku bawa sabu... di DALAM PERUTNYA. dimasukin lewat anus masing-masing 4 kapsul plastik = 250 gram per orang = 500 gram total 🥲 Tim langsung bawa keduanya ke RS EMC Tangerang buat XRAY + prosedur pengeluaran barang. Dan yes, hasilnya sesuai — 4 bungkus kapsul dari perut Musa, 4 bungkus dari perut Guntur ✅ Ini istilahnya "body packing" — modus lama yang dipake kartel di berbagai negara. RISKY BANGET buat pembawanya karena: → kalo satu kapsul BOCOR di dalam perut = OVERDOSIS INSTAN, mati dalam hitungan menit ☠️ → kalo mampet di usus = harus operasi darurat → jam ketat: barang harus dikeluarin dalam <24 jam sebelum tubuh mulai nyerap plastik Dan ini yang bikin sedih: mereka dibayar Rp 10 JUTA per 100 gram. Musa dapet total ~Rp 25 juta, Guntur dapet Rp 10 juta DP. buat naruh benda asing di dalam perut & taruhannya nyawa. mathematics-nya ngenes 🥲 Catatan penting dari Bareskrim di laporan: modus ini bisa lolos di Bandara Pekanbaru karena BELUM PUNYA X-RAY TRANSMISI (Body Scanner) 🚨 X-Ray biasa cuma ngedeteksi barang di luar tubuh — buat body packing perlu scanner khusus yang bisa "tembus" tubuh. bandara-bandara Indonesia perlu upgrade equipment ASAP biar modus baru ini bisa dicegah dari awal. Tim lanjut Controlled Delivery ke Sumbawa Barat, sampe jam 23.30 WITA. bertemu ISNAINI alias PP BARA (penjual di Sumbawa) yang udah nunggu barang — langsung diciduk juga. bahkan Isnaini sempat kirim Rp 5 juta ke Musa buat "bantu beli tiket pesawat" karena mereka ketinggalan pesawat 💀 real-time koordinasi. Struktur jaringan yang kebongkar: SOFIAN als PIAN (Pulau Rupat, penyedia — DPO 🏃) → JON als MEX (koordinator/pemesan — DPO 🏃) → MUSA & GUNTUR (kurir body packing ✋) → ISNAINI/PP BARA (penjual Sumbawa ✋) Business model-nya: Isnaini nyetor Rp 65 JUTA/100 gr ke Jon. Musa dapet upah Rp 10 juta/100 gr buat "layanan pengiriman lewat perut". margin buat Jon: Lumayan gede 💰 Skala kasus: 500 gram sabu, nilai ~Rp 900 JUTA, potensi 2.500 jiwa terselamatkan. dan ini baru pengiriman ke-2 mereka — yang pertama (Mei 2026) sukses masuk Sumbawa 🚨 Reminder yang berat: 1. Body packing = judi nyawa untuk uang recehan. Satu kapsul bocor = mati. Dan ini sering terjadi di berbagai negara 💀 2. Modus baru selalu muncul — Bandara yang ga upgrade equipment jadi celah. Laporan ini bahkan secara eksplisit minta pihak bandara siapkan Body Scanner 3. Yang paling dieksploitasi selalu yang paling kepepet — Musa & Guntur bukan bos, mereka pion yang risiko nyawanya paling gede tapi upahnya paling receh Salut sama tim Subdit IV Bareskrim yang jeli baca info intel + petugas bandara Soeta yang cekatan. Dan salut juga karena berani nyebut ke publik bahwa Bandara Pekanbaru masih perlu upgrade — Itu kritik internal yang konstruktif buat sistem keamanan negara 🫡 For anyone reading — kalau lo dipepet ekonomi & ditawarin "kerja mudah, bayaran gede, cuma bawa barang doang" — think TWICE! Nyawa lo ga bisa diganti sama berapapun uang yang dijanjiin. Stay safe guys!

ruhulmaani

175,637 Aufrufe • vor 1 Monat

Trump: Saya-lah yang Menempatkan Jolani Di video ini, Trump berkata, "Presiden Suriah, yang pada dasarnya saya tempatkan di sana, melakukan pekerjaan yang luar biasa. Dia orang yang keras; dia bukan anak baik-baik. Anak baik-baik tidak akan bisa melakukannya. Tetapi Suriah sedang bersatu, benar-benar bersatu dengan baik, dan sejauh ini dia sangat baik kepada Kurdi.” Siapa Presiden Suriah? Tak lain eks-ISIS (pernah dipenjara AS di Irak selama 4 tahun), lalu ke Suriah bergabung dengan Al Qaida dalam proyek penggulingan Bashar Assad. Nama aslinya konon Ahmed Al Sharaa, selama "berjihad" ia nama samaran Abu Mohammed al-Jolani. Awalnya, kelompoknya bernama Jabhah Al Nusra (Al Qaida cabang Suriah) dan resmi masuk daftar teroris oleh PBB. Lalu, JN ia ganti nama jadi Hay’at Tahrir al-Sham (HTS). Setelah akhirnya mereka menggulingkan rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, HTS ia bubarkan. Jihad dan khilafah apa kabar? Ya ga ada kabarlah. Dia ganti jubah jihadnya dengan jas dan dasi. Ia bersalaman dengan pemimpin negara-negara Barat. Sikap terhadap Israel? Kadang ngomel-ngomel dikit, karena Israel terus merangsek masuk menguasai sejumlah kawasan di Suriah, termasuk Dataran Tinggi Golan dan Gunung Hermon, dimana jarak tembak Israel dari sana cuma 40 km ke Damaskus. Tapi terhadap Israel, tidak ada jihad. "Suriah tidak bisa perang lagi, dan musuh yang dihadapi saat ini adalah Iran dan Hizbullah," kata Jolani ke wartawan. Saya (dan banyak rekan di medsos) sudah sejak lamaa.. sejak 2012 nulis soal agenda AS menggunakan proxi jihad ini. Banyak sekali tekanan dan kerugian yang saya dapatkan gara-gara terus menulis soal Suriah. Banyak sekali tekanan dan kerugian yang saya dapatkan gara-gara terus menulis soal Suriah. Awalnya, karena ada media online pendukung jihad menobatkan saya jadi "tokoh Syiah" dalam semalam, friend FB berkurang nyaris 2000. Lalu berlanjut tekanan dan intimidasi jahat, di dunia nyata maupun maya, bahkan juga kerugian bisnis. Tapi di saat yang sama, saya menemukan teman-teman sejati. Yang tetap setia, tetap mau berteman, dan memberikan dukungan dengan cara mereka masing-masing. Banyak yang bersama saya dan melindungi saya, dengan berani menggelar acara-acara bedah buku Prahara Suriah dan Salju di Aleppo, meski kemudian digeruduk fans "jihadis." Pernah minta tolong polisi di sebuah daerah, eh malah kami yang disuruh bubar. Untuk mereka semua, saya ucapkan terima kasih banyak. InsyaAllah semua kesulitan yang pernah kita lalu, ga sia-sia, pahalanya dicatat rapi oleh malaikat. Begitu juga, semua fitnah, caci-maki, dan kata-kata jahat kalian para Wahaboy, juga dicatat dan akan ada hitungannya di hari akhir nanti. Saya percaya, kebenaran pasti akan terungkap, cepat atau lambat. Sebenarnya sih kebenaran soal Suriah ini sudah lama terungkap, tapi masih banyak yang pura-pura ga tau. Sekarang setelah Trump mengaku, entah apa lagi alasan mereka. Sebenarnya, Trump ini sama saja dengan Bush, Obama & Biden; sama-sama diam-diam memanfaatkan Al Qaida untuk proyek mereka. Bedanya, Trump blak-blakan, sementara yang lain menutup-nutupi dengan jargon HAM & demokrasi. CATATAN: Saya mengungkap siapa yang berada di balik proyek Al Qaida & ISIS ini, tapi di saat yang sama, saya juga menyatakan bahwa MEMANG ADA umat Muslim yang bergabung atau fans organisasi teror berkedok jihad ini. Solusi untuk masalah ini, dalam pandangan saya, ada di dua level ini: kita menyebarluaskan pemahaman antiradikalisme tapi juga memahami peran AS & Israel dalam proyek terorisme ini. Jadi, beda ya, dengan "pejuang antiradikalisme" versi genk Tel Aviv, yang sok iye aja teriak-teriak soal "toleransi," tapi giliran terorisme Israel dikritik, mereka berbalik ngatain saya "pendukung terorisme Hamas." Yang mau mempelajari apa yang terjadi di Suriah, bagaiman peran para "jihadis" dan AS dan Israel, baca buku saya, unduh di

Dina Sulaeman

13,338 Aufrufe • vor 5 Monaten

Masih di sitkom Bajaj Bajuri. Kali ini kita geser dari ruang tamu Emak ke tempat Ucup dan Said nongkrong. Di permukaan, mereka berdua mungkin terlihat seperti komedian komplek biasa, tapi kalau kita lirik dari aspek visual dan pola dialognya, mereka sebenarnya sedang ceramah tentang krisis identitas dan hegemoni kultural yg mencekik masyarakat kelas bawah. Mari kita lihat dari salah satu detail visual: kebiasaan Ucup yg selalu pakai jersey KW. Pemilihan kostum ini menurutku bukan sebatas kebetulan komedik, melainkan kritik di ranah semiotik. Jersey olahraga pada dasarnya diciptakan sebagai simbol produktivitas fisik, keringat, kedisiplinan, dan kompetisi yg sehat. Tapi di sini, kostum itu justru melekat pada tubuh karakter yg gak "produktif", seorang pengangguran yg menghabiskan waktu luntang-lantung di pos ronda. Menurutku ini adalah bentuk eskapisme. Ketika struktur kapitalisme membuat Ucup gak punya identitas kelas yg bisa dibanggakan—tanpa pekerjaan, uang, dan status sosial—ia meminjam "eksistensi ternama" dari klub-klub bola raksasa. Jersey KW itu menjadi simulakra, sebuah pelarian di mana ia merasa terhubung dengan entitas yg megah, demi menutupi realitasnya sebagai kaum marginal yg nasibnya mentok di gang sempit. Tragedi krisis identitas ini berlanjut pada sosok Said. Kalau Ucup meminjam identitas dari klub bola, Said meminjam identitas dari figur otoritas kulturalnya. Perhatikan betapa Said hampir gak pernah memiliki opini orisinal. Seringkali waktu berdebat, menasihati, atau bahkan menipu, kalimat andalannya "Kata Wan Abud..." atau berlindung di balik nama atau pamannya yang lain. Menurutku ini adalah bukti dari kurangnya agensi diri. Said adl pemuda yg gak punya kapital ekonomi maupun kapital intelektual utk bertahan hidup. Karena gak pny kapasitas utk membangun otoritasnya sendiri, Said secara gak sadar terus-menerus mereduksi eksistensinya menjadi sekadar corong bagi otoritas di atasnya. Ia tidak eksis sebagai individu yg merdeka, melainkan hanya sebagai kepanjangan tangan dari dogma pamannya, mencari validasi dari figur bernama untuk diakui di masyarakat. Keterasingan dan kelumpuhan intelektual ini mencapai puncak ironinya lewat satu adegan komedi ikonik. Adalah momen di mana paman Said, sedang berbicara menggunakan bahasa Arab—entah itu sekadar mengobrol biasa, hingga bahkan marah-marah. Tapi respons warga kampung lainnya (termasuk pak RT) secara refleks tangkupkan tangan dan menyahut khusyuk, "Amiiin... Amiiin." Adegan ini jelas bukan cuma slapstick receh, tapi juga dekonstruksi tentang hegemoni linguistik dan komodifikasi kesakralan. Di masyarakat akar rumput, bahasa Arab telah mengalami objektifikasi sebagai sesuatu yg sakral. Warga mengalami alienasi terhadap substansi teologis; mereka gak sepenuhnya paham makna bahasanya, tapi secara buta tunduk pada bunyi dan simbol. Momen tersebut menyentil fenomena kepatuhan di masyarakat, di mana ketika agama hanya dihayati lewat cangkang luarnya saja, orang bisa dengan mudah dibodohi atau disuruh mengaminkan sumpah serapah murni karena kata-kata itu dibungkus dengan bahasa yang dianggap suci. Semua elemen yang mengalir dari jersey ilusi Ucup, ketiadaan agensi Said, hingga kepatuhan buta warga pada hegemoni bahasa ini merangkum betapa rentannya kelas bawah perkotaan era itu. Mereka gak punya kuasa atas uang, pikiran, dan bahkan pemahaman spiritual mereka sendiri. Semuanya serba meminjam, dan semuanya serba ilusi.

fillainart

25,089 Aufrufe • vor 3 Monaten

Karena KASAD Maruli Simanjuntak sewot dan bertanya, “siapa sih yang pernah perang betulan..?”. Nah, boleh dong kita sebut nama Letnan Jenderal TNI Rui Fernando Guedes Palmeiras Duarte. Ini Jenderal Bintang ⭐️ ⭐️ ⭐️ tanpa kenaikan pangkat istimewa, jangan tanya pengalaman perang, Jenderal muda yang produktif ini penerima Tanda Jasa Bintang Seroja, cuma tidak banyak sesumbar. Pendidikan Kesarjanaan ditempuh di Akademi Militer (1993), S2 International Relations Webster University, S3 Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan RI, Dik Gultor, Diklapa I, Selapa II, Seskoad LN (US Army Command General and Staff College/CGSC) Fort Leavenworth, Kansas, Dikreg Sesko TNI, kurang apa lagi coba…? Mereka yg berasal dari KBT (Keluarga Besar TNI), pasti tau persis bahwa jika posisi Sekretaris Kabinet atau jabatan lain setingkat Menteri dibolehkan bagi perwira TNI aktif, maka lazimnya hanya perwira dengan kualifikasi tertentu saja yg diambil sebagai kandidat dari institusi TNI. Sebenarnya agak janggal jika harus ambil Lulusan Akmil 2011 sebagai pejabat Sekretaris Kabinet sementara tidak melirik Akmil 1993, Kopassus, memiliki kualitas cemerlang seperti Letnan Jenderal TNI Rui Fernando Guedes Palmeiras Duarte untuk mengemban posisi pejabat setingkat menteri negara (beliau saat ini mengemban amanat sebagai Irjen Kemenhan RI. Dilihat dari segi Pangkat, Pendidikan dan karier, Rui Fernando kualitasnya melampaui kelayakan untuk posisi Sekretaris Kabinet, malah Jabatan Sekretaris Kabinet lah yang harus dikembalikan menjadi setingkat Menteri jika dipercayakan kepada Letjend Rui Fernando. Rui ini Letnan Jenderal dari proses pencapaian meritokrasi murni, bukan karena nepotism. Jasa dan Dedikasi Rui sebagai tentara telah teruji, ia pernah menjabat sebagai perwakilan atase militer di Washington-Amerika Serikat juga London,-Inggris, ia juga seorang dosen di UNHAN, apalagi dibidang manajemen pengawasan, tak perlu disangsikan lagi kualifikasinya, karena sampai saat ini Jenderal Rui masih menjabat sebagai Irjen Kemenhan RI. Sayang, jika Presiden Prabowo Subianto tidak mempertimbangkan putra terbaik TNI seperti Letjend Rui Fernando untuk dimanfaatkan pada posisi yang tepat bagi perbaikan negara yang tengah krisis akibat kekurangan pejabat pemerintahan terbaik untuk menjaga negeri ini. Orang-orang berjiwa patriot setelah mumpuni ditempa dalam kawah candradimuka lembaga Tentara Nasional Indonesia pasti tak akan ragu mundur dari kedinasan TNI jika negara memanggil dan membutuhkan darmabaktinya.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

184,208 Aufrufe • vor 1 Jahr

𝗠𝗔𝗛𝗔𝗞𝗔𝗥𝗬𝗔 𝗞𝗢𝗥𝗨𝗣𝗦𝗜 𝗣𝗔𝗟𝗜𝗡𝗚 𝗟𝗘𝗭𝗔𝗧. Jika di Indonesia ada MBG, maka di Konoha ada MBK, agar lebih aman dan tak perlu repot cari SP3, mari kita ulas tentang MBK saja. Para koruptor visioner abad ini telah menemukan Holy Grail kejahatan kerah putih, pencapaian Masterpiece dalam seni korupsi, “Makan Bergizi Konoha”. Ini adalah skema jenius yg membuat pencucian uang terlihat seperti permainan amatir dihadapan para Maestro MBK. Dalam proyek Makan Bergizi Konoha, barang bukti tidak perlu dibakar atau dilarung ke laut untuk menghilangkan jejak, tidak!. Barang bukti di sini memiliki mekanisme penghancuran diri otomatis yg paling canggih di dunia, “Metabolisme Manusia”. Bayangkan, betapa frustrasinya seorang auditor BPK. Ia datang dengan kaca pembesar, mencari jejak anggaran triliunan rupiah, namun yg ia temukan hanyalah food tray kosong. "Di mana makanan penuh gizi seharga lima belas ribu per porsi yang tertera di kwitansi ini..?" tanyanya. Sang kontraktor hanya perlu tersenyum tipis sambil menunjuk perut buncit seorang bocah, "Sudah bermetamorfosis menjadi energi, Pak. Atau mungkin sudah hanyut di jamban sekolah pagi tadi." Di sinilah letak keindahan brutalnya. Di pengadilan Anti Rasuah, jaksa penuntut umum terbiasa menghadirkan mobil mewah sitaan atau tumpukan emas batangan. Namun, bagaimana cara menghadirkan "rasa kenyang" ke depan meja hijau..? Bagaimana membuktikan bahwa "ayam goreng tepung" yang dimakan tiga bulan lalu sebenarnya hanyalah "tepung goreng aroma ayam"…? Saksi bisu dalam kasus ini benar-benar gagu, mereka telah dikunyah, dicerna, dan dibuang ke selokan sejarah. Perut rakyat miskin secara tidak sadar telah dijadikan mesin penghancur dokumen (shredder) paling efektif bagi para maling berjas dan berdasi paling kinclong. Dan jika ada auditor yg cukup gila untuk menelusuri distribusi yg fiktif, para arsitek anggaran ini memiliki kartu as bernama “Force Majeure”. Bencana alam bukan lagi musuh, melainkan mitra bisnis strategis. Hujan gerimis bisa didramatisir dalam laporan menjadi "badai tropis yg memutus akses logistik". Jalanan becek sedikit saja sudah cukup menjadi alasan mengapa truk katering (yg sebenarnya tidak pernah berangkat) gagal mencapai tujuan. "Maaf yg Mulia," kilah mereka nanti, "Bantuan itu ada. Makanannya nyata. Bahkan sampai kami kirim dengan Alphard dan Vellfire. Tapi Tuhan berkehendak lain. Banjir menghanyutkan stok kami." Maka, sempurnalah siklus ini. Anggaran cair deras seperti air bah, barang bukti lenyap ditelan lambung, dan kegagalan distribusi dimaafkan atas nama bencana. Proyek ini bukan sekadar memberi makan rakyat, ini adalah pesta pora para ‘politisi hantu’ dan ‘pejabat iblis’ yg kenyang memakan uang negara, tanpa takut tersedak oleh hukum yg kebingungan mencari sisa remah-remah bukti. **Video hanya pemanis, tidak berkaitan dengan isi tulisan diatas.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

36,276 Aufrufe • vor 6 Monaten

JANGAN BERHARAP BANYAK DENGAN KEPUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI Oleh : Henri Subiakto Hari ini MK akan mulai sidang sengketa Pemilu. Gugatan 01 dan 03 digulirkan. Tp jangan tll berharap bnyk dg putusan MK, krn menurut amatan para ahli di luar penguasa, semua yg terjadi sekarang sdh disiapkan & diantisipasi Jokowi sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan dan Kepala Keluarga. Kekuatan politik Jokowi hrs diakui sgt kuat 2024 ini. Tak ayal percaya diri melakukan manuver politik & hadapi semua konsequensi. Kenekadan yg tak pernah diperkirakan lawan apalagi teman yg terlambat memperoleh kesadaran. Aparat hukum seperti polisi, kejaksaan, bahkan KPK konon sdh disiapkan tunduk taat pd Presiden. Parpol & DPR juga sudah dibuat menjadi nurut di bawah pengaruh politik kekuasaan, sehingga praktis tdk ada yg mampu secara signifikan menggoyahkan posisi dan keinginan politik Jokowi. Maka upaya kekuatan politik yg berseberangan dan kecewa pd Jokowi terkait proses Pemilu tidak bisa tidak harus menyesuaikan infrastruktur yg sdh disiapkan yaitu bawa masalahnya ke MK sbg gugatan. Di luar itu utk waktu dekat praktis tdk banyak yang bisa dilakukan. Sebenarnya Hak Angket paling ideal utk mengungkap adanya banyak pelanggaran UU selama persiapan dan pelaksanaan Pemilu. Tapi Hak angket itu rumit, panjang dan banyak kendala serta mudah digagalkan di jalan. Karena partai2 politik & politisi sangat pragmatis, elit elitnya mudah disandera dan diiming imingi reward jabatan. Suka atau tdk suka MK jadi pilihan yg terpaksa paling mudah dilakukan. Terlepas bagaimana nanti hasil putusan, tidak penting bagi gerakan perlawanan. Yang penting sidang MK itu bisa jadi panggung hiburan, jadi panggung hukum untuk mengungkap fakta fakta penyimpangan menurut versi penggugat di persidangan. MK akan jadi Panggung hukum yg terbuka bagi masyarakat luas untuk menyaksikan apa yg terjadi, shg diharapkan bisa jadi sarana edukasi yg membuka mata utk melihat apa yg menurut pihak penggugat sbg bukti bhw sejak awal sebelum pertandingan panitia, wasit, pengawas, aparat keamanan, hingga lapangannya sudah ada aspek kecurangan. Kalau Hak Angket di DPR bisa dihalang2i & diganggu, disabotase, proses hukum di MK lebih aman minimal dr tingkah politisi yg “masuk angin” berubah2 pandangan. Sidang MK lebih steril dari manuver politisi, drpd pelaksanaan Hak Angket yg terlalu tergantung DPR dan kekuatan politik yang terlibat di lapangan. Sebagaimana sekarang semua yg terlibat proses politik di DPR berpotensi menghambat Hak Angket, sepanjang kepentingan politik mrk punya relasi dg penguasa, shg Hak Angket sulit diharapkan. Mk sidang MK bisa jd ban serep yg ditaruh di depan, untuk kontestasi komunikasi & hukum antara penggugat dg mrk yg ada di kekuasaan. Tentu para penggugat berharap Hakim2 MK sadar, mrk itu wakil2 Tuhan, yg hrs bersikap adil, jujur, bijak & independen dlm menjaga bangsa Indonesia dg konstitusinya. Para Hakim didorong mengembalikan marwah MK dg takut pd Tuhan yg mereka wakili. Bukan takut pd manusia yg sedang memegang kekuasaan. Juga meminta independensi dan integritas para hakim, shg MK bisa kembali mjd intitusi pengadil konstitusi yg dipercaya. Itu yg disuarakan mereka bersama pendukungnya. Terutama MK mengadili kecurangan Pemilu di ranah persoalan pelanggaran UU yg merusak demokrasi. Bukan mengadili persoalan angka2 yg menjadikan MK hanya sbg Mahkamah Kalkulator. Bukan pula mjd alat legitimasi penguat Mahkamah Keluarga. Bila hakim MK itu memiliki keberanian & percaya diri sebagai penjaga konstitusi Indonesia, hasilnya bisa saja menghentikan keinginan politik yg sdh direncakan. Tapi untuk independen spt itu tdk mudah, mengingat para Hakim kemungkinan merasa diawasi, dg dua hakim terancam kriminalisasi. Mk bagaimana hasil akhir keputusan MK, saya pribadi pesimis. Tidak mustahil semua kemungkinan penanganannya sdh diantisipasi dan disiapkan. Berarti besar kemungkinan keputusan MK tak akan mengubah banyak hal, hingga Prabowo Gibran dilantik Oktober nanti.

Henri Subiakto

31,720 Aufrufe • vor 2 Jahren