ะ—ะฐะณั€ัƒะทะบะฐ ะฒะธะดะตะพ...

ะะต ัƒะดะฐะปะพััŒ ะทะฐะณั€ัƒะทะธั‚ัŒ ะฒะธะดะตะพ

ะะฐ ะณะปะฐะฒะฝัƒัŽ

๐Œ๐๐†, ๐Œ๐ž๐ง๐œ๐ž๐ ๐š๐ก ๐’๐ญ๐ฎ๐ง๐ญ๐ข๐ง๐  ๐†๐ข๐ณ๐ข & ๐ƒ๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ค. Kalau tadi siang kita mengulas tentang MBK, maka sebelum malam berganti hari, mari sedikit kita intip tentang MBG. Bayangkan, jumlah 32.000 orang, di atas kertas mereka adalah laskar gizi, juru masak garda depan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, di mata para...

19,598 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 6 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด โ€ขvia X (Twitter)

ะšะพะผะผะตะฝั‚ะฐั€ะธะธ: 0

ะะตั‚ ะดะพัั‚ัƒะฟะฝั‹ั… ะบะพะผะผะตะฝั‚ะฐั€ะธะตะฒ

ะ—ะดะตััŒ ะฟะพัะฒัั‚ัั ะบะพะผะผะตะฝั‚ะฐั€ะธะธ ะธะท ะพั€ะธะณะธะฝะฐะปัŒะฝะพะณะพ ะฟะพัั‚ะฐ

ะŸะพั…ะพะถะธะต ะฒะธะดะตะพ

๐—ฅ๐—ฎ๐—ธ๐˜†๐—ฎ๐˜ ๐——๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ฎ ๐—ง๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐˜‚๐—บ๐˜‚๐˜€ ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐˜„๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป, ๐—Ÿ๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—ฉ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฆ๐—ฒ๐˜‚๐—บ๐˜‚๐—ฟ ๐—›๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ. Ada sebuah keajaiban hitung-hitungan di negeri ini yg tidak akan pernah bisa dijawab oleh guru matematika mana pun, bahkan oleh mereka yg telah mengabdi puluhan tahun hingga rambutnya memutih dimakan kapur tulis. Rumusnya sederhana namun menyayat hati, โ€œLima tahun duduk equivalent seumur hidup kenyang.โ€ Teori formulasi yg ditemukan oleh sekumpulan manusia terpilih yg menyebut diri mereka โ€œWakil Rakyatโ€ itu bahkan tak mampu dipecahkan otak sejenius Albert Einstein sekalipun. Masa kerja mereka singkat, hanya satu periode jari tangan, 5 tahun. Yang disebut kerja itu pun adalah duduk di ruang berpendingin udara yg sejuk, di atas kursi empuk yg harganya mungkin setara gaji setahun 10 orang buruh pabrik. Di sanalah mereka duduk rapat, atau terkadang juga terlelap. Tugas mereka mulia di atas kertas, namun ajaib di rekening. Hanya dengan modal lima tahun โ€œbersuaraโ€(atau diam), negara dengan sukarela mengikatkan diri untuk menanggung hajat mereka sampai liang lahat. Seolah-olah keringat lima tahun mereka adalah elixir suci yg nilainya tak terhingga. Pensiun seumur hidup untuk kerja seumur jagung. Sebuah warisan feodal yg dibungkus rapi dengan pita demokrasi. Di sisi lain, lihatlah ke bangunan sekolah yg atapnya bocor itu. Di sana ada seorang guru honorer. Gajinya sering dirapel tiga bulan sekali, nominalnya pun seringkali lebih kecil dari struk satu kali makan siang sang "Wakil Rakyat" tadi. Ia tidak duduk lima tahun, tapi berdiri dua puluh hingga tiga puluh tahun. Kakinya bengkak menahan lelah, suaranya serak mendidik anak-anak bangsa agar tidak bodoh, agar kelak bisa memilih wakil yg benar. Apakah ia mendapat pensiunโ€ฆ? Jangankan pensiun, bermimpi untuk diangkat menjadi pegawai tetap saja seringkali dilarang. Komplain sedikit soal MBG saja bisa dipecat. Ketika masa baktinya habis dan tubuhnya renta, negara memberinya ucapan terima kasih berupa selembar piagam kertas, lalu membiarkannya mati perlahan dalam kemiskinan. Tidak ada tunjangan hari tua, tidak ada jaminan kesehatan VIP. Pengabdian mencerdaskan kehidupan bangsa puluhan tahun ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan keahlian mengangkat jari tangan (yg lebih sering dipakai buat ngupil dari pada kunjungan ke dapil) dalam sidang paripurna. Sungguh sebuah komedi tragis. Kita dicekoki dan dipaksa menelan mentah-mentah โ€œUndang-Undangโ€ yg isinya membuat kaya raya si pembuatnya, membiayai hari tua mereka yg bekerja hanya sekejap, sementara kita membiarkan pahlawan yg membangun fondasi negara ini mengais remah-remah di masa senjanya. Hati nurani macam apa yg dipakai untuk mengetuk palu aturan itu..?Bagaimana mungkin kalian bisa menikmati uang pensiun itu dengan tenang, sementara guru yg dulu mengajari kalian mengeja kata โ€œKEADILANโ€ itu kini sedang bingung mencari uang untuk makan..? Di negeri ini, โ€œPengabdianโ€ rupanya diukur bukan dari seberapa besar jasamu pada bangsa dan negara, melainkan seberapa dekat pantat busuk mu dengan kursi kekuasaan. Bajingan kalian semuaโ€ฆ!!!

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

23,043 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 6 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

๐— ๐—”๐—ง๐—œ๐—ก๐—ฌ๐—” ๐—ก๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ฅ & ๐— ๐—ข๐—ฅ๐—”๐—Ÿ ๐——๐—œ ๐—”๐—Ÿ๐—ง๐—”๐—ฅ ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—๐—”๐—๐—”๐—›๐—”๐—ก. Pernyataan Prabowo bahwa โ€œperdamaian hanya tercipta jika semua orang menjamin keamanan Israelโ€ bukan sekadar kekeliruan diplomatik, itu adalah kebangkrutan moral yg paripurna. Ini adalah sebuah lelucon gelap dalam panggung sejarah kemanusiaan, di mana logika diputarbalikkan hingga patah, dan akal sehat dipaksa berlutut di hadapan arogansi kekuasaan. Meminta dunia, dan lebih parah lagi, meminta bangsa Palestina untuk menjamin โ€œrasa amanโ€ bagi Israel adalah sebuah paradoks yg menjijikkan. Bagaimana mungkin sebuah bangsa yg tanahnya dirampas, rumahnya dibuldoser, dan anak-anaknya dibantai, kini dituntut untuk menjadi penjamin tidur nyenyak bagi si perampokโ€ฆ? Ini sama halnya dengan menuntut leher yg tercekik untuk meminta maaf kepada tangan yg mencekik karena telah membuat jemarinya lelah. Logika ini adalah sebuah anomali yg cacat dan konyol. Jika kita menggunakan standar nalar yg sama, mari kita putar waktu ke masa revolusi fisik Indonesia. Bayangkan jika Bung Karno, Sang Putra Fajar, berdiri di hadapan ribuan rakyat jelata yg lapar dan tertindas, lalu berteriak lantang, โ€œSaudara-saudara!, Kita baru bisa damai jika kita menjamin NICA tidur nyenyak!. Kita harus akui kedaulatan Belanda agar mereka merasa aman menjajah kita!โ€. Jika itu yang keluar dari mulut Soekarno, maka ia bukan pahlawan proklamator, ia akan dicatat sejarah sebagai pengkhianat yg meludahi penderitaan rakyatnya sendiri. Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dengan menjamin kenyamanan Westerling, tapi dengan mengusir kebiadaban mereka. Menyamakan posisi penindas (okupator) dengan yg tertindas (okupied) dalam satu meja negosiasi yg menuntut jaminan keamanan bagi si kuat, adalah pengkhianatan terhadap konstitusi anti-penjajahan. Pernyataan Prabowo dalam forum internasional adalah bentuk diplomasi yg tidak membumi, yg seolah lupa siapa yg memegang senjata laras panjang dan siapa yg hanya memegang batu. Pemikiran dan logika absurd Prabowo ini merusak tatanan keadilan. Perdamaian tidak akan pernah lahir dari rahim ketidakadilan yg dipoles dengan kata-kata manis. Menuntut jaminan keamanan bagi penjajah sebelum memberikan hak hidup bagi yg dijajah adalah sesat pikir yang fatal. Itu bukan jalan menuju damai, itu adalah jalan menuju perbudakan yang dilegalisasi atas nama โ€œ๐—ฆ๐˜๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€.โ€ Sejarah tidak akan buta. Menjamin keamanan penjajah di atas tangisan korban jajahan adalah titik nadir di mana kemanusiaan kita telah resmi mati suri. Dengan sikap dan pemikirannya, Prabowo bukan hanya telah menyakiti perasaan bangsanya sendiri, namun melukai nilai-nilai kemanusiaan dan moral seluruh insan waras di muka bumi ini.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

43,720 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 5 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

๐——๐—ถ ๐—ก๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐——๐—ถ ๐—•๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ต๐—ถ ? Tiga jam ibu itu terpaku di kursi tunggu berbahan logam dingin apotek RS Kramat Jati. Di sekelilingnya banyak sesama pasien atau keluarganya yg senasib, dengan tubuh-tubuh lelah termangu menatap loket kaca yg separuh tertutup. Sementara di tempat lain yg mungkin berjarak hanya beberapa kilometer dari tempat mereka, ada pelayanan kesehatan swasta yg lantainya mengkilap dan udaranya beraroma lavender, di mana nasib pasien tidak ditentukan oleh selembar kertas rujukan yang kusut dan dilayani dalam hitungan menit. Ketika ia protes dan mengeluhkan letih lelahnya pada petugas disana, ia harus rela menerima pandangan sinis dan sorot mata kemarahan yg seolah menghardik dirinya, "Sabar ya, namanya juga pakai BPJS, pasiennya banyak.โ€ Begitu kalimat yg sering terdengar untuk rakyat kecil, seakan waktu milik orang kecil tidak berharga. Seolah-olah biaya pengobatan rakyat kecil ditanggung negara (padahal pajak dan iuran dipungut juga dari mereka). Ibu itu menolak untuk memaklumi karena mungkin rasa lelah di pinggangnya berteriak bahwa itu tidak adil. Keterlambatan ini bukanlah takdir, melainkan kegagalan manajemen. Mari kita bicara jujur. Apoteker di balik loket kaca buram ini dan apoteker di rumah sakit mewah sana, bukankah mereka dididik dengan ilmu yg sama ? Bukankah mereka mengucap sumpah profesi yg sama ? Tangan-tangan yg meracik obat itu memiliki keahlian yg setara. Komputer yg mereka gunakan pun dibuat oleh pabrik yg sama. Jadi, di mana letak perbedaannya ? Perbedaannya ada pada sistem dan kemauan. Pelayanan yg cepat bukanlah sihir yg hanya bisa dibeli dengan uang. Kecepatan adalah hasil dari sistem alur kerja yg efisien, rasio tenaga kerja yg memadai, dan digitalisasi yg terintegrasi. Ketika antrian mengular hingga berjam-jam, itu bukan salah pasien yg sakitnya "terlalu banyak". Itu adalah tanda bahwa sistem di rumah sakit pemerintah tidak didesain untuk menghormati waktu pasiennya. Sumber Daya Manusia (SDM) di sini mungkin lelah, terbebani, dan kurang jumlah, tapi itu bukan alasan untuk menormalisasi pelayanan yg buruk. Itu adalah alasan untuk Kementerian Kesehatan RI berbenah. Jika swasta bisa membangun sistem โ€œsupply chainโ€ obat yg cepat, kenapa pemerintah tidak ? Bukankah negara seharusnya menjadi pelayan terbaik bagi rakyatnya ? Menunggu obat selama tiga jam bukanlah sekadar "ujian kesabaran". Itu adalah pencurian waktu produktif rakyat kecil. Itu adalah bentuk ketidakadilan struktural yg terjadi di ruang terang benderang. Ibu itu tidak minta sofa empuk atau ruangan beraroma lavender. Ia hanya menuntut haknya untuk diperlakukan yg efisien, sistem yg manusiawi, dan kesadaran bahwa nyawa dan waktu orang miskin sama mahalnya dengan mereka yg kaya. Pada gilirannya, ibu itu memang membawa obat yg diberikan petugas apotek disana, tapi ia juga sekaligus membawa tanya yg tak kunjung sembuh, โ€œSampai kapan kami harus memaklumi ketidakadilan ini ?.โ€

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

176,150 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 6 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

๐— ๐—”๐—›๐—”๐—ž๐—”๐—ฅ๐—ฌ๐—” ๐—ž๐—ข๐—ฅ๐—จ๐—ฃ๐—ฆ๐—œ ๐—ฃ๐—”๐—Ÿ๐—œ๐—ก๐—š ๐—Ÿ๐—˜๐—ญ๐—”๐—ง. Jika di Indonesia ada MBG, maka di Konoha ada MBK, agar lebih aman dan tak perlu repot cari SP3, mari kita ulas tentang MBK saja. Para koruptor visioner abad ini telah menemukan Holy Grail kejahatan kerah putih, pencapaian Masterpiece dalam seni korupsi, โ€œMakan Bergizi Konohaโ€. Ini adalah skema jenius yg membuat pencucian uang terlihat seperti permainan amatir dihadapan para Maestro MBK. Dalam proyek Makan Bergizi Konoha, barang bukti tidak perlu dibakar atau dilarung ke laut untuk menghilangkan jejak, tidak!. Barang bukti di sini memiliki mekanisme penghancuran diri otomatis yg paling canggih di dunia, โ€œMetabolisme Manusiaโ€. Bayangkan, betapa frustrasinya seorang auditor BPK. Ia datang dengan kaca pembesar, mencari jejak anggaran triliunan rupiah, namun yg ia temukan hanyalah food tray kosong. "Di mana makanan penuh gizi seharga lima belas ribu per porsi yang tertera di kwitansi ini..?" tanyanya. Sang kontraktor hanya perlu tersenyum tipis sambil menunjuk perut buncit seorang bocah, "Sudah bermetamorfosis menjadi energi, Pak. Atau mungkin sudah hanyut di jamban sekolah pagi tadi." Di sinilah letak keindahan brutalnya. Di pengadilan Anti Rasuah, jaksa penuntut umum terbiasa menghadirkan mobil mewah sitaan atau tumpukan emas batangan. Namun, bagaimana cara menghadirkan "rasa kenyang" ke depan meja hijau..? Bagaimana membuktikan bahwa "ayam goreng tepung" yang dimakan tiga bulan lalu sebenarnya hanyalah "tepung goreng aroma ayam"โ€ฆ? Saksi bisu dalam kasus ini benar-benar gagu, mereka telah dikunyah, dicerna, dan dibuang ke selokan sejarah. Perut rakyat miskin secara tidak sadar telah dijadikan mesin penghancur dokumen (shredder) paling efektif bagi para maling berjas dan berdasi paling kinclong. Dan jika ada auditor yg cukup gila untuk menelusuri distribusi yg fiktif, para arsitek anggaran ini memiliki kartu as bernama โ€œForce Majeureโ€. Bencana alam bukan lagi musuh, melainkan mitra bisnis strategis. Hujan gerimis bisa didramatisir dalam laporan menjadi "badai tropis yg memutus akses logistik". Jalanan becek sedikit saja sudah cukup menjadi alasan mengapa truk katering (yg sebenarnya tidak pernah berangkat) gagal mencapai tujuan. "Maaf yg Mulia," kilah mereka nanti, "Bantuan itu ada. Makanannya nyata. Bahkan sampai kami kirim dengan Alphard dan Vellfire. Tapi Tuhan berkehendak lain. Banjir menghanyutkan stok kami." Maka, sempurnalah siklus ini. Anggaran cair deras seperti air bah, barang bukti lenyap ditelan lambung, dan kegagalan distribusi dimaafkan atas nama bencana. Proyek ini bukan sekadar memberi makan rakyat, ini adalah pesta pora para โ€˜politisi hantuโ€™ dan โ€˜pejabat iblisโ€™ yg kenyang memakan uang negara, tanpa takut tersedak oleh hukum yg kebingungan mencari sisa remah-remah bukti. **Video hanya pemanis, tidak berkaitan dengan isi tulisan diatas.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

36,201 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 6 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

โ€œPOLA YANG TERBACAโ€ Persuasi Ancaman - Risakan (Character Assassination) Ada satu pola yang selalu berulang dalam sejarah pertarungan kebenaran vs kebohongan penguasa. Bukan hanya di satu negara. Bukan hanya di satu zaman. Pola itu sederhana: Ketika pengungkapan kebenaran menyentuh titik kritis, yang diserang bukan substansinya, tapi ORANG yang berani mengajukannya. Tahapannya hampir selalu sama. Pertama, dipersuasi. Dibujuk. Kedua, diancam, dengan berbagai ancaman langsung maupun tidak, fisik, non fisik, hingga metafisik Ketiga, masuk ke tahap berikutnya: Risakan atau penghancuran kredibilitas Melalui kelemahan atau kesalahan di masa lalu (siapa sih orang yang tidak punya kesalahan masa lalu?) Dan jika tidak ada, maka dibentuklah fitnah-fitnah dan pembunuhan karakter (character Assassination). Karena jika publik sudah tidak percaya pada orangnya, maka mereka tidak perlu lagi mengamanka kebohongannya. Ini bukan teori. Ini pola. Hari ini, melalui apa yang terjadi pada Rismon, kemudian apa yang terjadi pada dr Tifa dan Roy Suryo, kita melihat pola itu lagi. Bukan tentang siapa yang benar. Bukan tentang data apa yang valid. Tapi tentang bagaimana perhatian publik digeser: Dari hukumโ†’ ke pribadi Dari substansi โ†’ ke sensasi Dari kebenaran โ†’ ke persepsi Isu-isu personal mulai dimunculkan. Label dilemparkan. Cerita dibangun. Dengan berbagai macam cerita dan fitnah yang dibangun dan terus-meneruskan dijejalkan kepada mindset publik. Bukan untuk menjelaskan. Tapi untuk mengaburkan. Saya ingin kita semua berhenti sejenak, dan bertanya dengan jujur: Kalau semua sudah jelas dan kuat, kenapa tidak dijawab saja jika memang masih ada pembelaan? Tidak cukup 22 Ahli, 127 Saksi, 709 dokumen pendukung untuk pembelaan atas 1 lembar ijazah? Masih perlu dibangun framing dan fitnahan? Kenapa harus berputar ke arah lain? Di titik ini, ini bukan lagi soal satu orang. Bukan soal nama tertentu. Ini soal sesuatu yang lebih besar: Apakah kita masih hidup dalam ruang di mana kebenaran boleh diajukan, dan dijawab dengan data? Atau kita sudah masuk ke fase di mana kebenaran dijawab dengan serangan? Saya tidak meminta Anda percaya pada saya. Walaupun Ilmuwan kelas dunia sekaliber Dr Ing Ridho Rahmadi, sudah memberikan keahlian dan pernyataan sevalid dan sekredibel ini. Saya hanya mengajak Anda menggunakan akal sehat. Lihat polanya. Nilai sendiri. Karena kebenaran tidak pernah takut pada pertanyaan. Yang takut biasanya adalah sesuatu yang berusaha disembunyikan. Dan jika hari ini yang diserang adalah orangnya, bukan pada kebenaran yang diungkapkan, Maka justru di situlah kita harus semakin fokus pada apa yang disampaikan. Saya, dr Tifa akan tetap di sana. Di titik kebenaran itu diletakkan. Tenang. konsisten. Dan tidak bergeser. Karena pada akhirnya, yang akan bertahan bukan suara paling keras, dan tindakan paling kejam. Yang akan bertahan adalah kebenaran yang diridhai Tuhan. Hasbunallah wanikmal wakil, nakmal maula wanikman Nashir La haula wala quwwata ila billahil aliyyil adziim.

Dokter Tifa

19,021 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 3 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

๐——๐—ถ ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—•๐—ถ๐˜€๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป, ๐—ฅ๐—ฒ๐˜€๐˜๐˜‚ ๐—ง๐—ฎ๐—ธ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฐ๐—ฎ๐—ฝ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—น. Banyak pengamat yg keliru menafsirkan keheningan Presiden Prabowo atas penolakan Kapolri jika struktur komando institusinya dibawah Kementerian sebagai keraguan, atau bahkan pembiaran. Namun, dalam kalkulasi politik tingkat tinggi, diam adalah sebuah bahasa. Diamnya Prabowo bukanlah tanda ketidaktahuan, melainkan sebuah persetujuan strategis, sebuah โ€œlampu hijauโ€ yg menyala terang dalam gelapnya koridor kekuasaan. Wacana meletakkan Polri di bawah kementerian seringkali melupakan satu hukum besi birokrasi, yakni โ€œKekuasaan tidak pernah dengan sukarela memangkas dirinya sendiri.โ€ Jika Polri dilucuti dari struktur langsung di bawah Presiden dan digeser ke bawah Kementerian Dalam Negeri atau kementerian baru, pihak yg mengalami kerugian administratif terbesar bukanlah Kapolri, melainkan Presiden itu sendiri. Polri, dengan rantai komando vertikal yg menjangkau hingga ke desa-desa, adalah instrumen kekuasaan eksekutif yg paling efektif. Ia adalah โ€œtanganโ€ Presiden untuk (dalam tanda petik) menjaga ketertiban, menegakkan hukum, dan mengamankan stabilitas keaman masyarakat. Mengapa dalam tanda petik ? Karena dalam realitas politik yg tak terkatakan Polri juga menjaga stabilitas politik dan kekuasaan Presiden, dan itu terbukti setidaknya dalam dua periode pemilu terakhir. Menempatkan Polri di bawah menteri berarti menciptakan โ€œPortal Birokrasiโ€ antara Panglima Tertinggi dan pasukannya. Bagi seorang Prabowo yg memahami betul arti komando dan kendali, membiarkan Polri lepas dari genggaman langsungnya adalah sebuah kemunduran strategis. Mengapa seorang Presiden mau menyerahkan pedang tertajamnya kepada seorang menteri, ketika ia bisa memegangnya sendiri..? Kapolri dengan ilusi โ€œPembangkangan-nyaโ€ adalah kecerdikan atau mungkin gimmick politik. Penolakan keras Kapolri terhadap wacana tersebut tampak gagah, seolah-olah institusi Polri sedang bertarung sendirian mempertahankan marwahnya. Namun, mari kita bersikap realistis. Dalam struktur ketatanegaraan dan budaya politik Indonesia yg hierarkis, mustahil seorang Kapolri berani โ€œpasang badanโ€ menolak wacana reformasi yg didorong oleh elemen masyarakat sipil dan sebagian parlemen, tanpa jaminan perlindungan dari atas. Jika Kapolri benar-benar bergerak sendiri, ia sedang melakukan bunuh diri politik. Ia harus berhadapan dengan koalisi gemuk Presiden di parlemen, berhadapan dengan sentimen TNI yg mungkin menginginkan keseimbangan kekuatan, dan berhadapan dengan opini publik. Keberanian Kapolri untuk berkata โ€œTidakโ€ adalah indikator terkuat bahwa di belakang punggungnya, Presiden telah menepuk bahunya. Penolakan itu bukanlah pembangkangan, itu adalah penugasan. Gimmick Politik dan Status Quo Sikap tegas Kapolri hanyalah etalase depan (front-stage) dari sebuah panggung sandiwara. Ini adalah gimmick politik yg dirancang untuk dua tujuan, Pertama sebagai tes ombak, menguji seberapa kuat desakan publik tanpa harus melibatkan Presiden secara langsung. Kedua sebagai penyangga atau buffer, Kapolri menjadi โ€œtamengโ€ yg menyerap kritik, sementara Presiden tetap bersih, menjaga citra sebagai pemimpin yg berada di atas segala polemik, padahal dialah penerima manfaat utama dari status quo tersebut. Pada akhirnya, narasi ini membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa keinginan untuk menempatkan Polri di bawah kementerian akan layu sebelum berkembang. Bukan karena Polri terlalu kuat, tetapi karena Presiden tidak memiliki insentif politik sedikit pun untuk melemahkannya. Diamnya Prabowo adalah suara paling lantang yg menegaskan bahwa โ€œReformasi Polri yg menyentuh perubahan struktur komando tidak akan pernah terjadi di dalam saku safarinyaโ€. Reformasi Polri diperkenankan sepenuh hati para cendekiawan, akademis, aktifis, pemikir politik, pengamat birokrasi dan ahli tata negara, asal tak lebih dari setengah hati Presiden.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

31,624 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 5 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

## Anak Abah di Pilkada Jakarta, dan Pendukung Kotak Kosong di Surabaya, mbok Mikir ## Aneh anak2 Abah ini. Kenapa malah teriakan nama Anies? Padahal Anies kan tak diusung satu parpol pun, di Pilkada Jakarta. Saya paham di pasar Cipulir itu banyak urang awak, yg condong ke Anies saat Pilpres lalu. Tapi apa guna teriakan nama Anies? Mau permalukan Ridwan Kamil? Apa gunanya? Tak akan juga RK kalah hanya karena Anak Abah teriak-teriak nama Anies saat berkunjung ke pasar Cipulir tsb. Kalau teriak nama Pramono-Rano, baru ada dampaknya. Atau teriak nama Dharma. Artinya kalian mendukung Pram atau Dharma, bukan RK. Nanti salurkan suara ke mereka. Lha teriak Anies, buat apa? Tak ada pun namanya di kertas suara. Mau mempermalukan? Bagaimana kalau nanti Ridwan-Suswono yg menang? Siapa yg akan susah? Padahal pasar Cipulir itu milik Pemprov Jakarta lewat PD Pasar Jaya. Artinya apa? Artinya apa yg jadi aspirasi pedagang untuk pasar dan kemajuannya nanti, disalurkan ke Gubernur Jakarta, lewat kebijakannya. Tangan Gubernur Jakarta sangat diperlukan oleh para pedagang untuk kepentingan mereka. Sehingga aspirasi mereka harus disampaikan ke calon-calon Gubernur yg berlaga saat ini. Tak mau RK, ada Pramono atau calon independen, Dharma-Kun. Meneriakan Anies, apa gunanya? Apa dipikir Anies bisa memperjuangkan nasib pedagang Cipulir nanti. Gubernur bukan, menteri tidak, hanya narasumber dari seminar satu ke yang lain. ==== Sama dengan di Surabaya, ada gerakan menangkan kotak kosong, hanya karena calon Walkot-wawali Surabaya cuma Eri-Armuji. Lha, ndak salah ta? Kalian pikir Pilkada itu tujuan kita berdemokrasi? Bukan cak, tujuan berdemokrasi itu tak sekedar Pilkada dgn calon2 yg lebih dari satu. Pilkada itu hanya salah satu alat berdemokrasi, untuk rakyat memilih pemimpinnya, yg akan memperjuangkan nasib nya. Jika memang calonnya hanya satu, dan memang selama menjabat berkinerja baik, rakyat puas, parpol pun nilai demikian, kenapa ngotot harus ada calon lain? Kenapa gara2 calonnya hanya Eri lantas kalian hakimi bahwa dia buruk, maka yg harus dimenangkan kotak kosong. Apa tak salah cara pikirnya? Lain hal jika memang kinerja Eri buruk. Ya lawan. Dan tak ada juga Parpol yg tak akan usung calon lain jika kinerja Eri buruk. Kasus Surabaya ini memang harus diakui, pemimpin kota kita ini perfomnya baik selama menjabat. Tak kalah dengan Risma. Armuji sebagai wakil pun apik, suka turun ke bawah. Lha, siapa yg berani lawan pemimpin yg memang sudah dekat di hati rakyatnya? Buang2 uang, cak. Lagipula, andai kalian kampanyekan kotak kosong, jika menang? Apa kalian yakin Pejabat Walikota yg diusulkan Gubernur dan disetujui pemerintah pusat nanti, akan lebih baik kinerjanya dari Eri-Armuji? Apa kalian mau, selama 5 tahun, Suroboyo dipimpin oleh Wali yg bukan pilihan rakyat, tapi walikota rekom Gubernur. ----- Mikir, ojo jadikan Pilkada sebagai tujuan berdemokrasi. Jadikanlah sebagai alat semata untuk menghasilkan pemimpin yg dikehendaki rakyat, yg bisa bekerja untuk rakyat. Hemat ku.

Ferry Koto

89,973 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 1 ะณะพะด ะฝะฐะทะฐะด

Bagi saya, PIK2 adalah monumen kerja nyata (sekalipun digarap oleh imperialis oligarki swasta), tapi (saat ini) bukan negara dalam negara. Ada batasan tafsir antara โ€œKenyamananโ€ dengan โ€œKedaulatan.โ€ Narasi โ€œNegara dalam Negaraโ€ hanyalah opini subyektif yg dipicu oleh emosional spontan saat melihat keteraturan yg gagal diciptakan oleh birokrasi pemerintah, namun berhasil diwujudkan oleh tangan swasta. Faktanya, secara hukum (de jure) dan fakta (de facto), PIK2 masih di bawah bendera Indonesia. Polisi, pajak, dan izinnya masih produk pemerintah. Jika di sana lebih teratur, lebih mewah, dan lebih disiplin, itu adalah manajemen kawasan komunitas, bukan pemisahan kedaulatan. Sebuah pandangan absurd menganggap keteraturan sebagai pengkhianatan nasional hanya karena sebagian besar orang terbiasa dengan kesemrawutan. PIK2 adalah manifestasi dari โ€œPerjuangan Mewujudkan Impianโ€ oleh sekelompok orang yg bergerak membangunnya sendiri, disaat negara dianggap lambat menyediakan standar hidup yang ideal. Mereka bahkan sama sekali tidak protes, tapi mereka membangun impian. Bahwa didalamnya ada misi jangka panjang, menengah, pendek, keuntungan ekonomi yg besar, rencana politik tersembunyi dan lain sebagainya, itu mungkin-mungkin saja. Tapi perkara PIK2 pada akhirnya terwujud sebagai sebuah โ€œKarya Nyataโ€, itu merupakan kerja real dari pihak-pihak yg mewujudkan impiannya. Bukankah hal yg sama pula yg kini hendak dilakukan Amerika dan Israel terhadap โ€œNew Gazaโ€ melalui konsorsium BoP-nya..? Jadi point pentingnya adalah sebuah โ€œKesadaranโ€. Yakni sadar bahwa โ€œKeteraturanโ€ itu mahal harganya, butuh kerja keras dan pengorbanan. Dalam kasus PIK2, pengorbanan oligarki itu adalah IKN yg dibayar dengan PSN (walaupun pada akhirnya dicabut di era pemerintah Presiden Prabowo), bukan hasil dari rapat-rapat retorik tanpa aksi. Dalam banyak hal, โ€œImpianโ€ dapat diwujudkan dengan spirit berjuang dengan keras dan sungguh-sungguh, termasuk hal-hal yg menyangkut impian membangun hukum, konstitusi, demokrasi serta ekonomi yg madani. Fakta hari ini, PIK2 merupakan produk dari hasil โ€œPerjuangan Mewujudkan Impianโ€ dalam โ€œKeteraturan dan Kemewahanโ€ didalamnya. Ia adalah prasasti fisik yang menampar wajah para pemimpi di siang bolong. Jika pun kelak dikemudian hari impian itu menuju kepada โ€œKedaulatan dan Otoritas Pemerintah Eksklusifโ€, boleh jadi juga akan terwujud, sepanjang intensitas kekuatan semangat yg sama dalam โ€œPerjuangan Mewujudkan Impianโ€ tersebut dengan segala pengorbanannya ditunaikan oleh para pihak yg hendak mewujudkannya. Intinya tidak ada perwujudan impian yg gratis, kecuali impian โ€œbunga tidurโ€ dari para pecundang yg ngelindur. PIK2 sejatinya adalah monumen yang dapat dijadikan tonggak pengingat, bahwa Impian hanya bisa diwujudkan dengan โ€œPerjuangan dan Pengorbananโ€, bukan sekedar omon omon dan omon di medsos, namun enol kosong didunia nyata. Ingat, kekalahan dan keterpurukan itu bukan karena orang jahat itu hebat dan kuat, tapi karena orang baik tidak mau bangkit, kompak, berjuang dan berkorban mewujudkan impiannya.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

28,044 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 3 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

Ini wajib di viralkan agar rakyat paham dan terbuka kesadarannya. Rakyat harus di โ€œCerdaskanโ€, bukan di โ€œGemukkanโ€..!!. Tau kah anda semua, bahwa para pejabat ini sedang โ€œmerampokโ€ kewenangan Presiden, Parlemen, dan Pemilih di masa depan yg berhak mengevaluasi, apakah pada tahun 2041 bangsa ini sudah mampu mengelola tambangnya sendiri secara utuh dan mandiri atau belum. Ini kok sudah dinilai dan diputuskan dari saat iniโ€ฆ? Dalam sistem demokrasi yang sehat, pemerintah adalah penerima titipan mandat 5 tahunan, bukan pemilik mandat. Mandat kekuasaan mereka dicetak dengan tanggal kedaluwarsa yg sangat jelas, 5 tahun. Kocak betul nggak sih, penerima titipan mandat sebuah negara selama lima tahun, tetapi dengan penuh percaya diri menandatangani perjanjian kerjasama atas wilayah dari negara tersebut kepada orang asing selama 35 tahun ke depan..? Kalau pemilik negara (dalam hal ini, rakyat lintas generasi) menyebut tingkah para pejabat itu kehilangan akal sehat alias gila, wajar nggak sih..? Membuat keputusan absolut dan mengikat yg jauh melampaui masa legitimasi kekuasaan itu sendiri bukanlah sebuah langkah waras, melainkan bentuk arogansi tingkat dewa. Ini adalah pengingkaran terhadap prinsip dasar demokrasi bahwa setiap generasi berhak menentukan nasibnya sendiri. Kekuasaan selalu memiliki batas demarkasi, baik secara spasial (wilayah) maupun temporal (waktu). Ketika sebuah rezim secara sengaja melampaui batas temporalnya dan mengambil porsi kewenangan pemerintahan di masa depan, mereka tidak sekadar membuat kebijakan, tapi sedang melakukan โ€œpencurian waktuโ€ (chronological corruption). Kalau anda-anda semua renungkan dengan cermat, anda akan sampai pada kesimpulan bahwa, โ€œMencuri uang dari APBN hari ini merugikan rakyat yang hidup hari ini. Namun, mengunci nasib kekayaan alam hingga tahun 2061 adalah bentuk korupsi atas hak hidup dan kedaulatan warga negara yang hari ini bahkan mungkin belum lahir.โ€ Sejatinya ini adalah โ€œPenjajahan Antar Generasiโ€, yakni sebuah kebijakan yg mengorbankan masa depan generasi mendatang, demi kenyamanan dan kepentingan mereka yg berkuasa hari ini.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

19,631 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 4 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

LIPUTAN AL-JAZEERA 4 JUNI 2026 KORUPSI BGN GO INTERNATIONAL *** Terjemahan video: Makanan gratis ini diantar setiap hari ke seluruh Indonesia, bagian dari program pemerintah untuk anak-anak serta ibu hamil dan menyusui, yang bertujuan mengatasi gizi buruk. Namun proyek ambisius ini kembali menjadi sorotan publik. Pekan ini, Presiden Prabowo Subianto memecat kepala program itu, Dadan Hindayana. Sehari kemudian, ia dan dua deputinya ditangkap atas dugaan korupsi. Yayasan yang ditunjuk sebagai mitra Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi adalah yayasan yang dipakai untuk kejahatan dan berafiliasi dengan pejabat atau pegawai Badan Gizi Nasional. Dadan juga dituduh mengadakan barang dengan harga yang digelembungkan, termasuk lebih dari 21.000 motor listrik dan 5.400 televisi. Penyidik menggeledah kantor badan itu dan rumah para tahanan. Suasana sepi di luar kantor pusat Badan Gizi Nasional, dengan hanya sedikit staf yang bekerja di dalam gedung. Meski kontroversi terbaru ini, pemerintah menyatakan programnya untuk memberi makan puluhan juta orang akan terus berjalan tanpa gangguan. Di kompleks kantor, karangan bunga dari para pengusaha dipajang, mengucapkan selamat kepada kepala badan yang baru. Lebih dari 30.000 dapur terlibat dalam program makan gratis ini dan dijalankan oleh usaha yang telah mengantongi izin dari badan itu. Tepat sebelum penangkapan, Presiden berbicara di sebuah acara yang dihadiri ribuan mitra yang terlibat dalam program gizi, sembari memperingatkan adanya konsekuensi atas pelanggaran. Program pangan ini adalah misi yang suci. Ini adalah makanan bagi mereka yang membutuhkan. Ini tak boleh menjadi alat bagi individu untuk memperkaya diri. Inisiatif makan gratis ini beranggaran $15 miliar untuk 2026, menjadikannya salah satu proyek termahal pemerintah. Program ini juga dikaitkan dengan kasus keracunan makanan dengan setidaknya 33.000 anak di seluruh negeri terdampak, menurut sebuah LSM lokal. Pemerintah menyatakan lebih dari 62 juta orang telah menerima manfaat dari makan gratis dan berkomitmen mencapai targetnya lebih dari 83 juta orang pada akhir tahun. Jessica Washington, Al Jazeera, Jakarta.

Ardianto Satriawan

15,637 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 1 ะผะตััั† ะฝะฐะทะฐะด

Masih di sitkom Bajaj Bajuri. Kali ini kita geser dari ruang tamu Emak ke tempat Ucup dan Said nongkrong. Di permukaan, mereka berdua mungkin terlihat seperti komedian komplek biasa, tapi kalau kita lirik dari aspek visual dan pola dialognya, mereka sebenarnya sedang ceramah tentang krisis identitas dan hegemoni kultural yg mencekik masyarakat kelas bawah. Mari kita lihat dari salah satu detail visual: kebiasaan Ucup yg selalu pakai jersey KW. Pemilihan kostum ini menurutku bukan sebatas kebetulan komedik, melainkan kritik di ranah semiotik. Jersey olahraga pada dasarnya diciptakan sebagai simbol produktivitas fisik, keringat, kedisiplinan, dan kompetisi yg sehat. Tapi di sini, kostum itu justru melekat pada tubuh karakter yg gak "produktif", seorang pengangguran yg menghabiskan waktu luntang-lantung di pos ronda. Menurutku ini adalah bentuk eskapisme. Ketika struktur kapitalisme membuat Ucup gak punya identitas kelas yg bisa dibanggakanโ€”tanpa pekerjaan, uang, dan status sosialโ€”ia meminjam "eksistensi ternama" dari klub-klub bola raksasa. Jersey KW itu menjadi simulakra, sebuah pelarian di mana ia merasa terhubung dengan entitas yg megah, demi menutupi realitasnya sebagai kaum marginal yg nasibnya mentok di gang sempit. Tragedi krisis identitas ini berlanjut pada sosok Said. Kalau Ucup meminjam identitas dari klub bola, Said meminjam identitas dari figur otoritas kulturalnya. Perhatikan betapa Said hampir gak pernah memiliki opini orisinal. Seringkali waktu berdebat, menasihati, atau bahkan menipu, kalimat andalannya "Kata Wan Abud..." atau berlindung di balik nama atau pamannya yang lain. Menurutku ini adalah bukti dari kurangnya agensi diri. Said adl pemuda yg gak punya kapital ekonomi maupun kapital intelektual utk bertahan hidup. Karena gak pny kapasitas utk membangun otoritasnya sendiri, Said secara gak sadar terus-menerus mereduksi eksistensinya menjadi sekadar corong bagi otoritas di atasnya. Ia tidak eksis sebagai individu yg merdeka, melainkan hanya sebagai kepanjangan tangan dari dogma pamannya, mencari validasi dari figur bernama untuk diakui di masyarakat. Keterasingan dan kelumpuhan intelektual ini mencapai puncak ironinya lewat satu adegan komedi ikonik. Adalah momen di mana paman Said, sedang berbicara menggunakan bahasa Arabโ€”entah itu sekadar mengobrol biasa, hingga bahkan marah-marah. Tapi respons warga kampung lainnya (termasuk pak RT) secara refleks tangkupkan tangan dan menyahut khusyuk, "Amiiin... Amiiin." Adegan ini jelas bukan cuma slapstick receh, tapi juga dekonstruksi tentang hegemoni linguistik dan komodifikasi kesakralan. Di masyarakat akar rumput, bahasa Arab telah mengalami objektifikasi sebagai sesuatu yg sakral. Warga mengalami alienasi terhadap substansi teologis; mereka gak sepenuhnya paham makna bahasanya, tapi secara buta tunduk pada bunyi dan simbol. Momen tersebut menyentil fenomena kepatuhan di masyarakat, di mana ketika agama hanya dihayati lewat cangkang luarnya saja, orang bisa dengan mudah dibodohi atau disuruh mengaminkan sumpah serapah murni karena kata-kata itu dibungkus dengan bahasa yang dianggap suci. Semua elemen yang mengalir dari jersey ilusi Ucup, ketiadaan agensi Said, hingga kepatuhan buta warga pada hegemoni bahasa ini merangkum betapa rentannya kelas bawah perkotaan era itu. Mereka gak punya kuasa atas uang, pikiran, dan bahkan pemahaman spiritual mereka sendiri. Semuanya serba meminjam, dan semuanya serba ilusi.

fillainart

25,056 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 2 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

Kenapa di negara yang belum maju dan sejahrera, dengan sistem politik yang seolah demokratis, pendapatan atau kesejahteraan politisi di Parlemen itu jauh lebih penting dari yang lain? Perhelatan Sidang Tahunan di Parlemen menunjukkan kemewahan dan kesejahteraan pimpinan dan para anggotanya. Mungkin yang bisa menyamai kesejahteraan dan pendapatan para pejabat politik, anggota DPR RI adalah para petinggi Polri. Kesejahteraan mereka itu kontras jika dibandingkan dengan kesejahteraan para peneliti, para dosen dan atau ilmuwan negeri ini, yang harus mendidik dan memajukan ilmu pengetahuan untuk bangsa besar ini. Kenapa ketimpangan demikkan terjadi? Logika politiknya itu karena, untuk mempertahankan kekuasaan dan efektifnya kebijakan politik pemerintah, penguasa perlu dukungan parlemen dan dukungan โ€œpenegakkan hukumโ€ terutama dari Kepolisian. Disitulah mengapa lembaga lembaga kekuatan utama penopang kekuasaan politik menjadi sangat penting untuk dipupuk dan dirangkul pemerintah agar mengamankan soliditas keberlangsungan politik penguasa. Kalau ilmuwan, peneliti, atau dosen, walau mereka strategis untuk meningkatkan kualitas manusia dan bangsa, namun fungsi mereka tak banyak pengaruh langsung terhadap keberlangsungan politik penguasa. Makanya kesejahteraan merekapun tidak menjadi prioritas. Malah selain anggota parlemen dan polisi, kekuatan keamanan seperti Tentara dan Ormas, itu dalam mempertahankan kekuasaan justru jauh lebih penting dari pada lembaga ilmu dan riset. Kesejahteraan pemegang senjata dan Ormas yang memiliki akar di masyarakat, dinilai lebih strategis dari pada mereka yg kerjanya bergelut dengan pengetahuan, inovasi dan kemajuan. Dari besaran politik anggaran dan pendapatan SDM bisa nampak bagaimana pilihan kebijakan pemerintah berpihak. Siapa yang didahulukan kesejahteraannya itulah wujud kepentingan penguasa pada mereka saat ini. Dalam kondisi seperti itu, logis jika anggota DPR dan pejabat polisi akan menjadi lebih banyak mendukung stabilitas kekuasaan dari pada mengkritisi, mengawasi, dan penegakkan regulasi. Logis pula jika anggota DPR dan polisi yang sejahtera banyak bersyukur pada kondisi saat ini, karena telah mendapatkan berbagai fasilitas kesejahteraan yang tinggi dibanding institusi yang lainnya. Sebaliknya untuk rakyat pada umumnya, dan para pendidik harus lebih banyak bersabar dengan kondisi dan kebijakan negara. Ada pendapat dan sinyalemen terkait ini. Bagi rakyat banyak itu, semakin mereka kurang sejahtera, justru dipandang semakin mudah digerakkan atau dimobilisasi oleh kelompok yang berkuasa. Bagi rakyat yang belum sejahtera, amplop dan program bagi bagi bansos itu menjadi faktor penting untuk menentukan dukungan dan pilihan politik mereka sesuai kepentingan politik si pemberi bansos dan cuan. Mereka mudah dapat dukungan justru ketika rakyat masih banyak yang susah dan merindukan bantuan. Video berikut ini hanya secuil pelengkap gambaran, tentang kesejahteraan, bukan dimaksudkan sebagai representasi keseluruhan.

Henri Subiakto

23,357 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 11 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

1x kita berbuat baik, maka orang lain akan berterima kasih padamu. 2x kali kita berbuat baik, orang lain mulai mengharap padamu. 3x berbuat baik, maka orang lain akan bergantung padamu. 4x berbuat baik, maka orang lain akan menganggap kalau hal itu sudah menjadi tanggungjawab kita untuk dirinya. Namun ke 5x nya, kita tidak berbuat baik pada orang tersebut, sekecil apa pun, mereka menilai kita telah berbuat kejahatan. โ€“Friedrich Nietzsche . . . KRONOLOGI BERDASARKAN KETERANGAN KORBAN Dua orang ini mohon bantu dikondisikan, karena sudah semakin meresahkan. Sejak dulu, keluarga kami selalu ikhlas membantu salah satu bapak ini. Awalnya hanya beliau seorang diri yang sering datang ke rumah untuk sekadar meminta makan dan minum. Kami selalu memberinya dengan lapang hati, bahkan ketika dulu Dia sering tidur di halaman rumah, kami pun tidak pernah mengusir. Namun, belakangan ini ia membawa seorang temannya lagi, sehingga kini ada dua orang yang datang. Yang membuat kami merasa terganggu adalah kebiasaan mereka datang larut malam, bahkan di atas pukul 21.00 WIB. Mereka sering menggedor pintu rumah dengan keras, seolah memaksa untuk dibukakan. Tadi malam, sekitar pukul 22.00 WIB, keduanya kembali datang. Karena waktunya sudah terlalu malam, kami memutuskan untuk tidak merespons. Bukannya berhenti, mereka justru semakin keras menggedor pintu. Puncaknya, salah satu bapak tersebut terlihat berada di samping jendela kamar saya. Entah hendak mengetuk jendela atau mencoba mengintip, tetapi hal itu jelas membuat saya sangat tidak nyaman dan terganggu. Kami mohon kepada siapa pun yang mengenal kedua bapak ini, agar bisa menenangkan atau menasihati mereka, ๐Ÿ“ Banyurip Pekalongan

Miss Tweet |

120,991 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 10 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

โ€œPEMERINTAH PRABOWO TIDAK BISA LANGSUNG KERJAโ€ Oleh : Henri Subiakto Kebijakan politik Prabowo dengan menambah atau mengubah ubah nama atau nomenklatur kementerian itu sama saja harus siap membuang waktu penataan hingga bisa sampai satu tahun. Terutama untuk kementerian yang harus membuat struktur baru, atau menyesuaikan dengan struktur kelembagaan baru karena kementerian berubah nama, struktur, atau tupoksi baru. Setelah menteri dilantik, mereka harus membuat regulasi tata kelola yang baru terkait struktur yang sebelumnya tidak ada atau berubah. Kemudian mereka juga harus membuat program kerja baru sesuai struktur yang baru. Tentu saja segera pula membuat anggaran sesuai struktur dan program baru tersebut. Berbarengan dengan itu pemerintah harus melakukan Pemilihan staf eselon atau SDM sesuai aturan. Dari eselon 1 eselon 2 hingga eselon 3, bahkan sampai 4 sesuai tatanan aturan kementerian sekarang. Kemudian karena ada perubahan nama dan lembaga, maka logo, kop surat, website dan berbagai simbol lembaga juga harus diubah sesuai struktur baru. Ini ribet karena harus kordinasi dengan kementerian PAN, Kementerian Keuangan dan Bapenas hingga Setneg. Akan lebih ribet lagi jika tiga kementerian pendukung itu juga mengalami perubahan. Kemudian untuk pemerintah daerah di tingkat provinsi hingga kabupaten kota juga harus menyesuaikan struktur kementerian yang berubah baru itu. Agar Pemerintah Daerah juga mempunyai dinas yang terkait urusan Pemerintahan dan pelayanan yang berubah itu. Ini juga rumit dan butuh dasar regulasi untuk aturan terkait tupoksi dan penganggaran maupun persoalan SDM. Tiap kementerian baru atau yang berubah harus kordinasi dengan kementerian dalam negeri, untuk menyiapkan struktur yg sesuai hingga di daerah. Jadi mengubah struktur kementerian dan kabinet menjadi gemuk itu bukan sekadar menunjuk orang yang akan jadi menteri, dan wakil menteri, tapi memiliki konsekuensi panjang terkait struktur, penganggaran dan SDM hingga di daerah di seluruh Indonesia. Belum lagi terkait kordinasi dengan partner mereka di DPR atau legislatif. Nah untuk itu tentu semakin banyak kementerian yang berubah, semakin butuh waktu dan biaya untuk menyelesaikan persoalan struktur kelembagaan ini. Pada saat perubahan masih berproses, maka sebagian besar ASN di kementerian yg berubah gak bisa langsung kerja. Padahal pemerintah Prabowo dituntut dan diharapkan untuk segera melakukan perbaikan. Melakukan pelayanan. Bahkan Pemerintah dievaluasi dan ditunggu kinerjanya dalam 100 hari, dalam setahun dll. Kebijakan Pemerintah baru mengubah struktur yang begitu banyak tersebut menunjukkan kurang memperhitungkan pengalaman yang tak mudah ini. Karena harus diingat pejabat atau ASN itu harus bekerja sesuai aturan, jika mereka melanggar aturan dan merugikan uang negara maka itu masuk katagori korupsi. Repotnya aturan tupoksi masih yang lama, struktur masih lama, disitulah birokrasi butuh waktu menyiapkan dan menata agar aman tidak melanggar aturan sekaligus tidak masuk perangkap korupsi. Ini bukan masalah sederhana tapi rumit. Beruntung bagi kementerian atau lembaga yang tidak berubah nomenklatur. Makanya mengubah ubah struktur dan nama kementerian itu punya konsekuensi panjang. Pasti butuh wajtu hingga bisa melakukan pelayanan dan kerja untuk publik. Sayangnya Presiden lebih mendahulukan mengakomodasi kepentingan pendukung politik dibanding pertimbangan mendahulukan pelayanan segera pada rakyat dan negara yang harus secepatnya dilakukan. Mengubah ubah kementerian juga akan jadi preseden buruk dan inefisiensi waktu maupun anggaran. Presiden baru di 5 tahun mendatang belum tentu cocok dengan struktur yang diubah sekarang. Maka ini juga bisa memunculkan inkonsistensi pemerintahan-pemerintahan di masa depan. Itulah harga pak Prabowo ingin mengakomodasi atau merangkul banyaknya kekuatan politik di negeri ini.

Henri Subiakto

123,951 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 1 ะณะพะด ะฝะฐะทะฐะด

Uang: Oleh-Oleh Lebaran yang Paling Dirindukan Di balik tradisi silaturahmi dan kebersamaan, ada satu hal sederhana yang selalu dinantikan setiap anak saat Lebaran, uang saku dari para orang tua dan kerabat. Setiap kali Lebaran tiba, suasana rumah selalu berubah menjadi lebih hidup. Sanak saudara berdatangan, meja makan penuh hidangan, dan suara tawa memenuhi setiap sudut rumah. Namun di balik semua tradisi itu, ada satu hal sederhana yang selalu menjadi kenangan paling melekat bagi banyak orang sejak kecil: uang Lebaran. Bagi anak-anak, uang Lebaran bukan sekadar lembaran rupiah yang diberikan oleh orang tua, paman, bibi, atau kakek nenek. Ia adalah simbol kebahagiaan, kejutan, dan rasa diperhatikan. Saat tangan kecil menerima amplop atau uang yang dilipat rapi, ada perasaan gembira yang sulit dijelaskan,campuran antara rasa bangga, senang, dan penuh harapan. Tradisi memberi uang saat Lebaran sebenarnya tidak tertulis dalam aturan agama, tetapi telah menjadi budaya yang hidup di masyarakat. Ia lahir dari semangat berbagi dan memuliakan kebahagiaan di hari kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Memberi kepada anak-anak menjadi cara sederhana untuk menanamkan rasa kasih sayang sekaligus mempererat hubungan keluarga. Menariknya, kenangan tentang uang Lebaran sering kali bertahan sangat lama. Banyak orang dewasa masih mengingat dengan jelas bagaimana dulu mereka menghitung uang hasil "berkeliling rumah saudara", menyimpannya di dompet kecil, atau bahkan merencanakan apa yang akan dibeli setelah Lebaran. Ada yang menabungnya, ada yang langsung membelanjakannya untuk mainan, buku, atau jajanan favorit. Seiring waktu, peran pun berubah. Anak-anak yang dulu menerima uang Lebaran, kini menjadi orang dewasa yang memberi. Ada kepuasan tersendiri saat melihat mata anak-anak berbinar ketika menerima amplop kecil yang kita berikan. Momen itu seperti mengulang kembali kenangan masa kecil,hanya saja dari sudut pandang yang berbeda. Pada akhirnya, uang Lebaran bukan soal besar atau kecilnya jumlah yang diberikan. Nilai terbesarnya justru terletak pada makna di baliknya: perhatian, kebahagiaan, dan tradisi berbagi yang membuat hari raya terasa lebih hangat. Karena itulah, di antara berbagai oleh-oleh Lebaran, mulai dari kue, pakaian baru, hingga hidangan khas, uang tetap menjadi oleh-oleh yang paling dirindukan, terutama oleh anak-anak. Bukan sekadar karena nilainya, tetapi karena kenangan manis yang selalu menyertainya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Miss Tweet |

24,045 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 4 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

Menduduki kursi kekuasaan dari hasil rekayasa tidak akan pernah memberikan rasa kenyang, ia hanya memberikan rasa haus yg tiada akhir hingga ajal merampas kekuasaannya. Pemimpin yg bertahta diatas kertas buram konstitusi yg bisa ditekuk, dilipat, dan digunting sesuai selera ambisinya, maka akan terus membisiki dan mengingatkan, bagaimana aparat negara dulu bergerak seperti bayang-bayang di malam hari, mengetuk pintu-pintu dengan ancaman halus, memastikan angka-angka berpihak padanya. Ia akan ingat terus, bagaimana dulu ia mengubah hukum menjadi pelayan yg membungkuk, bukan lagi panglima yg tegak. Ia bisa mengerahkan tentara dan polisi, para gubernur hingga aparat desa, namun satu hal yang tidak bisa ia mobilisasi, rasa hormat yang tulus. Setiap kali ia berdiri di podium, ia tidak melihat rakyat yg mencintainya. Ia melihat ribuan pasang mata yg menelanjanginya. Ia merasa rakyat tahu. Ia merasa tatapan mereka menembus jas mahalnya, melihat langsung ke tulang-tulang kecurangannya. Ketakutan terbesar baginya bukanlah invasi asing atau krisis ekonomi, melainkan bunyi nalar yang mulai berisik. Intelektual yg bangkit dan bersatu merangsek memasuki istana, menyeret paksa dan melucuti jubah kekuasaannya. Ia gemetar memikirkan ruang-ruang kuliah, kedai-kedai kopi, dan mimbar-mimbar diskusi. Di sanalah hantu intelektual revolusioner itu hidup. Ia membayangkan para intelektual mulai menyusun kata-kata menjadi senjata, membedah kepalsuannya dengan pisau logika yg tajam. Ia takut akan datangnya waktu, dimana nurani rakyat bertemu dengan kejernihan pikir kaum terpelajar. Baginya, demokrasi yg ia bajak adalah bom waktu. Ia tahu, sekuat apa pun ia mengerahkan tameng besi dan pagar berduri, kebenaran memiliki sifat seperti air yg akan selalu mencari celah, merembes pelan, dan pada akhirnya, menjebol bendungan kebohongan yang paling kokoh sekalipun.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

16,122 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 6 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด

Cinta Laura dalam sesi TEDxUPH ungkap jika saat ini dengan kemajuan teknologi, justru rasa "bosan" yang dulu ada di diri manusia kian tergerus, "Kalau ada satu hal yang ingin aku bawa kembali ke hidup kita, itu bukan productivity hack, bukan morning routine yang baru, tapi rasa "bosan". Teknologi telah menghapus rasa bosan dari hidup kita. dan aku rasa kita tidak sepenuhnya memahami apa yang telah hilang dari diri kita. Coba pikirkan kapan terakhir kali kamu duduk dalam diam dan benar-benar tidak melakukan apa-apa. Aku pikir, banyak dari kita yang kesulitan untuk mengingatnya.Neurosains modern juga mendukung hal ini. Saat otak tidak terus-menerus dibanjiri informasi baru ia masuk ke kondisi yang berkaitan dengan kreatifitas, memori dan kemampuan menghubungkan berbagai ide. Namun saat ini kita menjadi begitu tidak nyaman dengan ketenangan hingga kita keliru menganggap stimulasi sebagai produktifitas dan distraksi adalah istirahat Mungkin itu alasannya kita tahu begitu banyak tentang hidup orang lain, tetapi justru kesulitan untuk mendengar pikiran kita sendiri. Oleh karena itu sekarang aku selalu menanyakan tiga hal pada diriku sebelum mengambil keputusan besar Apa yang akan tetap aku kejar kalau tidak ada seorang pun yang melihat? Apa yang rela aku jalani, meski aku harus buruk dalam hal itu untuk waktu yang sangat lama? Karena yang terbaik, pasti membutuhkan waktu yang lama. Dan terakhir, siapa lagi yang akan ikut merasakan manfaatnya kalau aku menjadi versi terbaik dari diriku. Ini adalah pertanyaan yang mengubah segalanya. Karena ketika tujuanmu hanya tentang dirimu sendiri pada akhirnya semuanya akan terasa hampa. Ego membuat kita terpisah, tujuan mengubungkan kita"

folkative

33,281 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 16 ะดะฝะตะน ะฝะฐะทะฐะด

Ini yang dimaksud bahwa Indonesia "SALAH URUS" hingga Negeri yang KAYA SDA ini hanya jadi PASAR Kalau Bule itu mengatakan Negeri Distributor = Negeri PASAR Global Contoh sejak dulu, Indonesia PASAR bagi MICROSOFT Windows TERBESAR di dunia, Tapi Bisnis Microsoft ada dimana? Di SINGAPORE, karena Indonesia Tidak Menarik bagi INVESTOR karena Negeri ini TIDAK MAMPU MENCIPTAKAN KEPASTIAN HUKUM dan STABILITAS POLITIK nya, Tiap Periode, Tiap Pemimpin BARU Terpilih membawa VISI & MISI nya sendiri karena EGO ke AKU annya yang GEDE BENER daripada Kepentingan BANGSA dan NEGARANYA Begitu juga dengan ELON MUSK / STARLINK Hahahaha dia cuma hire 2 orang untuk Memasarkan Produknya di INDONESIA, Investasinya Hahahaha GA ADA. Apalagi Produk Amerika masuk Negeri ini PAJAKNYA "NOL" Persen !!! Dan Pabrik Jepang yang kemarin TUTUP juga karena KEBIJAKAN YANG SALAH ARAH dan Indonesia tetap jadi PASAR Komponen produksi mereka dari Vietnam Jadi โ€‹Ketika ia menyebut Indonesia hanya menjadi "Negeri Distributor," ini adalah bentuk penyederhanaan yang sangat menyakitkan namun realistis dari kondisi kita saat ini. Jebakan "Kekayaan SDA": Kita memiliki semua sumber daya alam yang dibutuhkan dunia, namun kita tidak memiliki teknologi untuk memprosesnya sendiri menjadi produk akhir. Akhirnya, kita hanya mengeruk bahan mentah, mengirimkannya keluar, lalu membeli kembali dalam bentuk produk jadi yang harganya sudah berlipat ganda. Ini adalah definisi klasik dari middle-income trap. Budaya "Cepat Kaya" (Instant Gratification): Poin mengenai "mencari uang instan" sangat krusial. INI YANG GUE PERNAH SAMPAIKAN, TEMPAT PESUGIHAN SEKARANG SEPI, KARENA PARA AUDIENCE PESUGIHAN TELAH MENJADI PEJABAT SEMUA, KARENA DUITNYA LEBIH NYATA dan RESIKONYA LEBIH KECIL. Pemerintahan itu KUIL MAMMON dan Pejabat adalah Pesugihan Modern Sistem bisnis yang ada seringkali lebih mengejar valuation tinggi di atas kertas daripada membangun fundamental bisnis yang nyata. Ini yang ia bandingkan dengan perusahaan teknologi di Amerika (seperti Facebook), di mana para pendirinya tetap berada di perusahaan untuk membangun nilai jangka panjang, bukan sekadar exit strategy untuk mencairkan uang. โ€‹"Negeri Distributor" = "Negeri Pasar": Istilah ini SANGAT AKURAT. Kita adalah target pasar terbesar karena jumlah penduduk kita yang masif dan konsumtif, namun kita tidak memegang kendali atas rantai pasok teknologi. Kita "didistribusikan" barang oleh pemain luar, dan kita "mendistribusikan" sumber daya kita keluar. Kita bukan pemegang kendali, melainkan hanya titik transit dalam perdagangan global. Apa yang ia kritik bukanlah potensi Indonesia, melainkan ARAH orientasi bisnis dan kebijakan INDONESIA. Ketika "inovasi" dianggap tidak "seksi" dibanding "uang instan," maka kita terjebak dalam siklus di mana kita hanya menjadi konsumen dari teknologi yang diciptakan orang lain (Contoh rakyat yang menemukan BIBIT PADI BARU Dipenjara, dan Rakyat yang Memproduksi TV MURAH juga dipenjara) Negeri ini Anti Innovasi. โ€‹Ini adalah cerminan dari kegelisahan gue: Apakah kita akan terus selamanya menjadi penonton di rumah sendiri, ataukah kita mulai berani membangun industri berbasis inovasi dan teknologi yang fundamental? Ketimpangan antara "sumber daya alam yang melimpah" dengan "teknologi yang minim" ini disebabkan oleh kebijakan yang memang sengaja mengarahkan kita untuk menjadi pasar, bukan produsen !! :: WeKa ::

Wawat Kurniawan (WeKa) ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

27,356 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 24 ะดะฝะตะน ะฝะฐะทะฐะด

Catatan Kecil dari Jogjakarta โ€œSang Surya yang Tetap Bersinarโ€ Dua hari lalu, dalam perjalanan singkat ke Yogyakarta untuk kunjungan keluarga, langkahku terhenti di depan sebuah tempat yang dulu begitu besar dalam dunia kecilku , SD Muhammadiyah 1 Bausasran. Sekolah ini berdiri tahun 1917, satu tahun sebelum Muhammadiyah resmi berdiri pada 1918. Saat kecil, aku belum memahami makna sejarah itu. Tapi hari ini, ketika berdiri lagi di depannya, rasanya seperti berdiri di depan pintu sebuah peradaban pendidikan yang lebih tua dari usiaku, lebih tua dari zaman yang kuhuni. Ketika bersekolah di sana selama 6 tahun masa kecilku, bangunannya masih gedung tua peninggalan pemerintah Hindia Belanda , dibangun untuk anak-anak pribumi. Megah dalam kesunyian, kuno, sakral, dan penuh energi masa silam. Di situlah anak-anak didikan Muhammadiyah ditempa sebelum kelak, beberapa di antara mereka, menjadi tokoh-tokoh besar bangsa. Dan salah satu alumni paling mulianya adalah KH. AR Fachruddin (Pak AR), Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang disegani, dihormati, dan dikenang sebagai sosok bersahaja penuh hikmah. Menyadari bahwa aku pernah duduk dan dididik di sekolah yang sama dengannya menghadirkan rasa haru yang tidak bisa diterjemahkan dengan kata. Bukan soal sejajar dan setara, karena tentu aku tak sehebat beliau, tetapi soal garis sejarah yang diam-diam , ternyata menghubungkan murid kecil ini dengan sosok teladan besar. Aku masih ingat kebiasaan lamaku: menengadah ke langit-langit kelas, memandangi kasau-kasau kayu jati kuno yang beberapa di antaranya ditulisi angka 1917. Ada rasa kagum sekaligus kecil: โ€œTernyata tempat ini lebih dulu hidup, jauh sebelum aku datang mempelajari huruf pertama.โ€ Namun, perjalanan waktu tak selalu lembut. Gempa besar yang melanda Yogyakarta tahun 2006 meluluhlantakkan bangunan bersejarah itu , runtuh menjadi puing, tanpa bisa diselamatkan. Dan yang kutemui tahun 2025 adalah bangunan baru, struktur baru, cat baru, ruang baru. Tetapi getaran itu tetap sama. Kesuciannya tidak hilang. Kenangannya tidak rubuh bersama tembok-tembok tua itu. Justru ia berdiri lebih utuh: di hati. Di halaman sekolah, aku berbincang sejenak dengan Ibu Supartiningsih, kepala sekolah hari ini, sementara dari kejauhan terdengar latihan marching band. Sekilas, seperti melihat bayangan diri sendiri tahun 1980: seragam gagah berumbai melekat di tubuh kecilku, tongkat komando bergemerincing di tangan, dan langkah maju yang sedikit gugup, namun tetap maju. Aku pernah jadi majorette marching band SD Muhammadiyah ketika itu. Dalam perjalanan pulang, tanpa direncanakan, mulut ini kembali menyanyikan Mars Sang Surya , lagu pertama yang kuhafal tanpa jeda, tanpa lupa. Ternyata lagu itu bukan sekadar hafalan sekolah. Ia adalah simpul memori: optimisme, keberanian, dan keyakinan bahwa kebenaran tidak perlu berteriak , cukup tetap ada. Tetap jujur. Tetap berdiri. Anda bisa mendengar suara saya yang bergetar menyanyikannya, haru dan bangga, menjadi bagian dari sebuah entitas besar, Muhammadiyah. Kunjungan singkat ini bukan nostalgia kosong. Ini pengingat sunyi bahwa nilai, keyakinan, dan keberanian yang ditanam sejak kecil tidak pernah hilang, bahkan ketika gedungnya runtuh atau zaman berubah. Salam Takzim dr.Tifauzia Tyassuma,

Dokter Tifa

23,748 ะฟั€ะพัะผะพั‚ั€ะพะฒ โ€ข 7 ะผะตััั†ะตะฒ ะฝะฐะทะฐะด