Loading video...
Video Failed to Load
𝗧𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 𝗦𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗞𝗹𝗮𝗸𝘀𝗼𝗻 𝗟𝗼𝗸𝗼𝗺𝗼𝘁𝗶𝗳 𝗣𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗔𝗿𝘁𝗶, 𝗟𝗼𝗵! 📣 Pernah nggak sih lagi naik kereta terus dengar suara klakson lokomotif yang pendek, panjang, atau dibunyikan beberapa kali? Ternyata, setiap bunyi itu bukan sekadar dibunyikan begitu aja loh, Guys! 👀 Di dunia perkeretaapian, klakson lokomotif punya arti dan fungsi tertentu yang... show more
18,721 views • 2 months ago •via X (Twitter)
8 Comments

Sy top up 2.400.000 melalui atm ... tp tidak bisa terisi di KAI Pay. Sudah lapor email KAI dan sdh menghubungi 121 bahkan download Kaspro dan sy jadikan premium. Kembalikan uang saya yang orang kecil ini. Jangan tipu sy!! Tp pelayanan nya tidak cepat.

klo kereta yg mau lewat kenceng/pelan ada kodenya ga.

min kok argo semeru compartment suite gaada ya rute YK-GMR tanggal 06 Juli 2026 di semua hari ada, gaada hari itu aja?

Selamat malam Kak. Mohon maaf Railmin cek tiket KA Argo Semeru Compartment (5CS), dengan rute Yogyakarta-Gambir keberangkatan 6 Juli 2026 sudah habis terjual semua ya. Kemudian untuk jadwalnya saat ini sudah tersedia hingga keberangkatan 31 Juli 2026 ya Kak. Mengenai jadwal dan ketersediaan tiketnya, Kakak bisa pengecekan melalui aplikasi Access by KAI di menu "antarkota" ya. Railmin imbau untuk selalu hati-hati ya, terhadap akun penipuan yang mengatasnamakan KAI. Saat ini, seluruh akun media sosial KAI121 sudah terverifikasi. Mohon abaikan, jika ada balasan dari akun yang tidak bercentang emas dan meminta kakak untuk menghubungi via WhatsApp. Nomor resmi WhatsApp KAI121 (centang biru): 0811-2223-3121. Trims.

Semboyan indonesia: bhineka tunggal Ika. ,@KAI121 semboyan nya knp bunyi klakson?

Nice info min. Sekarang bahas “apa itu fungsi palang pintu kereta api?”. Karena masih banyak warga terlalu pintar yang boro-boro merhatiin suara klakson. Yang udah jelas-jelas palang pintu mau menutup aja masih banyak yang nerobos. 😌

Minn,, kereta Airlangga jurusan PSE-SMC apakah bisa naik dari stasiun Bekasi? Mohon info ya minn,,

Selamat pagi Kak. Jika sudah memiliki tiket KA Airlangga (272) rute Pasarsenen-Semarang Poncol, silakan bisa naik dari Bekasi ya. Railmin imbau untuk selalu hati-hati ya, terhadap akun penipuan yang mengatasnamakan KAI. Saat ini, seluruh akun media sosial KAI121 sudah terverifikasi. Mohon abaikan, jika ada balasan dari akun yang tidak bercentang emas dan meminta kakak untuk menghubungi via WhatsApp. Nomor resmi WhatsApp KAI121 (centang biru): 0811-2223-3121. Trims.
Related Videos
Sensitive content
"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.
Kalanara Mahardika 🎬
320,064 views • 3 months ago
